MAGELANG, Juli — Masalah produksi Air Susu Ibu (ASI) yang kurang lancar kerap menjadi batu sandungan utama bagi para ibu muda dalam memberikan asupan gizi terbaik untuk buah hatinya. Padahal, cakupan ASI eksklusif menjadi modal krusial dalam mencetak generasi sehat sekaligus menekan angka stunting di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, sebuah kajian ilmiah terbaru berhasil mengungkap efektivitas terapi hypnobreastfeeding sebagai solusi non-farmakologis yang aman, alami, dan tanpa efek samping dalam mendongkrak produksi ASI.
Penelitian komprehensif berformat literature review ini dilakukan oleh Ulfaningsih, peneliti dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam studi bertajuk “Analisis Pengaruh Hypnobreastfeeding Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Menyusui”, Ulfaningsih membedah delapan artikel ilmiah kuasi-eksperimental terpilih yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia untuk melihat sejauh mana intervensi pikiran bawah sadar ini bekerja.
Tujuan utama riset ini adalah menganalisis secara mendalam pengaruh hypnobreastfeeding terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui, sekaligus menelisik karakteristik responden, waktu pelaksanaan yang ideal, hingga teknik penerapannya di lapangan.
Hasil analisis menunjukkan mayoritas responden merupakan ibu post partum atau pascamelahirkan pada rentang usia reproduksi sehat 20 hingga 35 tahun, dengan tingkat pendidikan menengah dan mayoritas berstatus primipara atau baru pertama kali melahirkan. Melalui penelaahan terhadap seluruh artikel rujukan, penelitian ini membuktikan secara signifikan bahwa terapi hypnobreastfeeding berhasil meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui secara nyata.
Secara statistik, seluruh penelitian yang dikaji mencatatkan angka signifikansi statistik yang sangat kuat dengan p-value kurang dari 0,05. Rata-rata peningkatan volume produksi ASI setelah mendapatkan intervensi terapi relaksasi ini mencapai 20,85 mililiter per hari, bahkan dengan lonjakan tertinggi hingga 45 mililiter per hari pada kelompok sampel tertentu.
Secara ilmiah, teknik ini bekerja memanfaatkan energi alam bawah sadar untuk menginduksi kondisi relaksasi yang dalam pada ibu. Ketika pikiran ibu berada dalam kondisi tenang, nyaman, dan bebas dari cemas, produksi hormon stres seperti kortisol akan terhambat. Sebaliknya, kondisi rileks ini merangsang pelepasan neurotransmiter positif serta mengoptimalkan kerja hormon prolaktin dan oksitosin—dua hormon kunci yang sangat bertanggung jawab dalam proses pembentukan dan pengeluaran ASI.
Waktu pelaksanaan hypnobreastfeeding terbukti sangat dominan dan paling efektif dilakukan pada masa taking hold, yakni pada hari ke-3 hingga ke-10 pascamelahirkan. Terapi dilakukan secara rutin dua kali sehari dalam durasi 15 hingga 30 menit. Adapun teknik penerapannya sangat praktis dan fleksibel, baik melalui pemberian kalimat-kalimat afirmasi positif secara langsung oleh terapis atau suami, maupun secara mandiri dengan mendengarkan rekaman audio relaksasi.
Melalui temuan ini, hypnobreastfeeding sangat direkomendasikan sebagai terapi pendamping yang murah, sederhana, dan efektif untuk diterapkan di layanan kesehatan maupun secara mandiri di rumah demi menunjang keberhasilan pemberian ASI eksklusif.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

