Model Team Assisted Individualization Terbukti Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SD pada Pembelajaran Pancasila
28 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli – Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi yang terus didorong dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Namun, masih banyak sekolah dasar yang menghadapi tantangan dalam menumbuhkan keterampilan tersebut, terutama pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Berangkat dari persoalan itu, Lestiarini Isnani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Magelang, melakukan penelitian mengenai efektivitas model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Penelitian bertajuk Pengaruh Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran Pancasila di Sekolah Dasar ini dilaksanakan di kelas IV SD Muhammadiyah 1 Muntilan. Tujuannya adalah menguji apakah penerapan model pembelajaran kooperatif TAI mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dibandingkan pembelajaran konvensional.

Dalam penelitiannya, Lestiarini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment yang melibatkan 64 siswa. Pengukuran dilakukan melalui tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest), kemudian dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney berbantuan perangkat lunak SPSS.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berpikir kritis setelah penerapan model TAI. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 53 pada pretest menjadi 64 pada posttest, dengan selisih peningkatan sebesar 11 poin. Secara statistik, hasil uji menunjukkan nilai Asymp. Sig. sebesar 0,003, lebih kecil dari 0,05. Temuan tersebut menandakan bahwa model Team Assisted Individualization memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.

Tidak hanya meningkatkan hasil belajar, model TAI juga mendorong siswa lebih aktif berdiskusi, saling membantu memahami materi, serta bekerja sama dalam kelompok. Peneliti menemukan bahwa suasana belajar yang kolaboratif membuat siswa lebih berani menyampaikan pendapat, menganalisis persoalan, dan mencari solusi secara bersama-sama. Kondisi tersebut berbeda dengan pembelajaran konvensional yang cenderung berpusat pada guru.
Pada tahap akhir penelitian, kelas yang menggunakan model TAI memperoleh hasil belajar lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Nilai posttest kelas eksperimen mencapai rata-rata 69, sedangkan kelas kontrol berada pada angka 60. Analisis statistik juga memperlihatkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, sehingga model TAI dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila.

Temuan ini memperkuat pentingnya inovasi pembelajaran di sekolah dasar. Model Team Assisted Individualization dinilai mampu menjadi alternatif bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, sekaligus mendorong siswa berpikir lebih kritis dalam memahami materi Pendidikan Pancasila. Selain meningkatkan prestasi akademik, pendekatan tersebut juga berkontribusi dalam membangun keterampilan abad ke-21 yang semakin dibutuhkan di lingkungan pendidikan.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance