Di Luar Kurikulum Formal: Bagaimana Budaya Lokal Magelang Mengubah Karakter Siswa?
29 July 2026

Admin KUI-KIMMI

Magelang, Juli – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menggeser nilai-nilai budaya lokal, dua sekolah dasar di Kabupaten Magelang justru menunjukkan arah yang berbeda. Melalui pengelolaan pendidikan berbasis kearifan lokal, MI Ma’arif Bulurejo dan SD Islam AlFirdaus berhasil membangun karakter peserta didik secara konsisten. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan Zahra’ Yasmin Dinda Maharani, mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, dalam tesis berjudul Manajemen Pengembangan Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Karakter Siswa di MI Ma’arif Bulurejo dan SD Islam AlFirdaus.

Penelitian ini mengangkat tema manajemen pengembangan kearifan lokal sebagai strategi pembentukan karakter siswa. Fokus utamanya adalah mengkaji bagaimana pengelolaan program berbasis budaya lokal diterapkan di kedua sekolah, bentuk-bentuk kearifan lokal yang dikembangkan, serta dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan analisis data secara induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada pembelajaran di kelas, tetapi juga pada keberlanjutan tradisi yang diintegrasikan ke dalam aktivitas sekolah. Di MI Ma’arif Bulurejo, kearifan lokal diwujudkan melalui kegiatan seperti Suronan, Nyadran (Ruwahan), Jumat Birrul Walidain, serta penyampaian nilai-nilai moral melalui petuah lisan. Sementara itu, SD Islam AlFirdaus lebih menonjolkan kearifan lokal yang bersifat nonfisik, seperti program Asaku Menembus Langit, tari tradisional, pengenalan rempah-rempah dan makanan tradisional, hingga kegiatan sima’an Al-Qur’an.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa kolaborasi antara kepala sekolah, guru, dan orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan program. Pembiasaan yang dilakukan secara rutin, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, mampu memperkuat internalisasi nilai-nilai karakter sehingga tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.

Dampaknya terlihat nyata pada perkembangan peserta didik. Program berbasis kearifan lokal terbukti membentuk karakter spiritual yang kuat, meningkatkan kedisiplinan, rasa ingin tahu, semangat gotong royong, kepedulian sosial, hingga sikap rendah hati (tawadhu’). Karakter-karakter tersebut berkembang melalui pengalaman langsung dalam tradisi dan budaya yang hidup di lingkungan sekolah, bukan hanya melalui teori di ruang kelas.

Temuan Zahra’ Yasmin Dinda Maharani memperlihatkan bahwa pelestarian budaya lokal bukan sekadar upaya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi model pendidikan karakter yang relevan menghadapi tantangan zaman. Ketika nilai-nilai budaya diintegrasikan ke dalam manajemen sekolah secara terencana, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berbudaya, dan memiliki spiritualitas yang kuat.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance