Peran Penting Perawatan Keluarga dalam Mengendalikan Hipertensi Usia Dewasa
27 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli  — Penyakit hipertensi kerap dicap sebagai “silent killer” yang hanya mengintai kelompok lanjut usia. Namun, fenomena di lapangan justru menunjukkan ancaman ini makin bergeser ke kelompok usia produktif. Berdasarkan riset terbaru di wilayah kerja Puskesmas Mertoyudan II, Kabupaten Magelang, peran internal keluarga terbukti menjadi benteng utama dalam menekan dan mengendalikan lonjakan tekanan darah pada usia dewasa.

Riset yang disusun oleh Rahayu Gustiana, peneliti dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, mengulas secara mendalam Hubungan Tugas Keperawatan Kesehatan Keluarga Terhadap Kejadian Hipertensi Pada Usia Dewasa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana kesanggupan keluarga dalam menjalankan lima tugas dasar kesehatan—mulai dari mengenali gejala, mengambil keputusan medis, merawat anggota keluarga yang sakit, memodifikasi lingkungan rumah, hingga memanfaatkan fasilitas kesehatan—dalam meredam angka kejadian hipertensi di kelompok usia produktif (22–59 tahun).

Melalui pendekatan survei analitis cross-sectional terhadap 52 responden usia dewasa yang terdaftar di Puskesmas Mertoyudan II, riset ini mengungkapkan mayoritas penderita hipertensi berada pada rentang usia dewasa madya (40–59 tahun) dengan persentase 63,5%, di mana kelompok perempuan mendominasi sebanyak 55,8%. Dari sisi tingkat keparahan, mayoritas responden mengidap hipertensi tingkat 1 (40,4%) dan pra-hipertensi (32,7%).

Analisis data membuktikan adanya hubungan yang nyata dan signifikan antara keaktifan keluarga dalam merawat kesehatan rumah tangga dengan tingkat kejadian hipertensi. Keterikatan antara kedua variabel tersebut berada pada tingkat hubungan yang sedang.

Di antara lima tugas keluarga, indikator “mengenal masalah kesehatan” menjadi faktor yang paling dominan. Ketika keluarga peka terhadap gejala awal seperti pusing, tengkuk kaku, atau perubahan gaya hidup yang tidak sehat, tindakan pencegahan serta penanganan medis dapat dilakukan lebih dini sebelum berkembang menjadi komplikasi fatal seperti stroke atau gagal ginjal.

Stres akibat beban kerja, pola makan tinggi garam, serta minimnya aktivitas fisik kerap membuat penderita usia produktif tidak menyadari kondisi tekanan darah mereka. Di sinilah keluarga hadir bukan sekadar sebagai pendamping, melainkan sebagai pengambil keputusan dan penyedia lingkungan yang kondusif.

Hasil penelitian ini merekomendasikan agar instansi kesehatan, khususnya puskesmas, tidak hanya berfokus pada pengobatan medis individu, tetapi juga memperkuat program edukasi berbasis keluarga. Dengan mengedukasi unit keluarga secara berkala, pengendalian hipertensi pada usia produktif dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance