MAGELANG, Juli – Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi kerap dijuluki sebagai silent killer. Tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, kondisi ini dapat memicu komplikasi fatal seperti stroke hingga serangan jantung. Di tengah mahalnya biaya pengobatan farmakologis dan kekhawatiran masyarakat akan efek samping obat jangka panjang, pencarian solusi alternatif yang aman dan ekonomis terus dilakukan. Berangkat dari masalah ini, Rezaldi Gunawan, mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, meneliti efektivitas terapi komplementer berbasis herbal lokal.
Penelitian berupa studi kasus keperawatan ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Rezaldi mengambil tema penerapan intervensi nonfarmakologis rebusan daun seledri (Apium graveolens) sebagai inovasi asuhan keperawatan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Melalui pendekatan klinis langsung ke rumah pasien, penelitian ini bertujuan mengukur sejauh mana penurunan tekanan darah serta perbaikan gejala fisik (seperti pusing dan pegal pada tengkuk) sebelum dan sesudah pemberian terapi air rebusan daun seledri secara rutin.
Menurut Rezaldi, seledri dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman herbal yang mudah didapat ini mengandung senyawa aktif seperti apigenin, apiin, flavonoid, hingga magnesium dan kalsium. Senyawa apigenin bekerja sebagai vasodilator yang mencegah penyempitan pembuluh darah dan memperlambat detak jantung, sementara apiin dan mannitol bertindak sebagai diuretik alami yang membantu ginjal mengeluarkan kelebihan garam dan cairan dari dalam tubuh.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif dengan subjek dua pasien hipertensi kategori dewasa akhir/lansia (Tn. S, 65 tahun dan Tn. S, 75 tahun) di Grabag, Magelang. Terapi diberikan selama tujuh hari berturut-turut dengan takaran yang terukur, yakni 40 gram daun seledri segar yang direbus dalam 400 ml air hingga tersisa 200 ml. Air rebusan tersebut diminum dua kali sehari, masing-masing 100 ml pada pagi dan sore hari, diiringi monitoring tekanan darah berkala serta edukasi manajemen nyeri nonfarmakologis.
Hasil pengamatan lapangan menunjukkan penurunan tekanan darah yang signifikan pada kedua pasien. Pasien pertama yang semula memiliki tekanan darah awal 165/89 mmHg berhasil turun secara bertahap hingga menjadi 140/90 mmHg di hari ketujuh. Sementara itu, pasien kedua mengalami penurunan dari 151/89 mmHg menjadi 130/89 mmHg. Selain angka sistolik dan diastolik yang melandai, keluhan fisik seperti pusing, rasa berat pada tengkuk, hingga gangguan tidur dilaporkan hilang dan pasien merasa jauh lebih nyaman.
Kendati hasilnya amat positif, Rezaldi memberi catatan bahwa efektivitas terapi herbal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien dalam menjaga pola hidup. Pasien yang disiplin mematuhi diet rendah garam dan rutin mengonsumsi ramuan menunjukkan respon penurunan yang lebih cepat dibanding pasien yang masih terkendala pola makan atau stres emosional.
Melalui karya tulis ilmiah ini, Rezaldi Gunawan membuktikan bahwa pemanfaatan terapi tradisional yang terukur dan sesuai standar operasional prosedur (SOP) mampu menjadi solusi pendamping medis yang efektif, murah, dan aman bagi penderita hipertensi di tingkat masyarakat.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMAÂ

