MAGELANG, Juli — Implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berpusat pada siswa dan kemandirian belajar menghadapi tantangan tersendiri di lapangan. Riset kualitatif terbaru yang disusun oleh Urmilla Fakhrun Nisaa dari Universitas Muhammadiyah Magelang mengungkapkan bahwa tingkat keterlibatan siswa (student engagement) kelas 7 dan 8 di SMPN 11 Magelang dalam Kurikulum Merdeka secara umum belum berjalan optimal, khususnya pada aspek perilaku (behavioral) dan kognitif (cognitive). Studi deskriptif yang menggunakan teknik Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok siswa dan guru ini membedah dinamika keterlibatan peserta didik serta faktor-faktor kunci yang memenangaruhiya selama proses pembelajaran dan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketimpangan antar-dimensi keterlibatan siswa. Dari aspek emosional (emotional engagement), para siswa menyambut Kurikulum Merdeka dan kegiatan P5 dengan antusiasme tinggi. Aktivitas luar kelas seperti kunjungan ke instansi publik, olahraga bersama, hingga praktik pengelolaan sampah memberikan rasa senang dan pengalaman baru bagi peserta didik. Namun, kondisi berbeda terlihat pada keterlibatan perilaku (behavioral engagement). Peneliti menemukan masih maraknya sikap pasif saat diskusi kelompok, ketergantungan pada instruksi guru, hingga perilaku tidak bertanggung jawab seperti hanya menumpang nama dalam tugas tim. Di sisi lain, keterlibatan kognitif (cognitive engagement) juga masih tergolong rendah. Banyak siswa mengalami kesulitan memahami materi secara mendalam akibat pola pembelajaran yang terburu-buru, penyampaian materi yang monoton, serta belum tumbuhnya budaya literasi dan kemandirian belajar.
Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah elemen pendorong sekaligus penghambat yang menentukan sejauh mana siswa mau terlibat aktif di sekolah. Pada faktor peningkat, metode pengajaran guru yang kreatif dan interaktif menjadi pendorong utama antusiasme belajar siswa, yang disempurnakan oleh ketersediaan sarana prasarana yang memadai serta keberadaan teman sebaya yang suportif dalam membangun iklim belajar kondusif. Sebaliknya, gaya mengajar guru yang kaku dan membosankan dinilai siswa sebagai pemicu utama keengganan untuk berpartisipasi. Hambatan tersebut kian diperparah oleh ketidakmandirian siswa dalam belajar, keterbatasan fasilitas pendukung seperti LCD proyektor yang rusak atau gangguan kebisingan kelas, hingga kurangnya perhatian dan pendampingan dari orang tua di rumah.
Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa faktor dukungan guru—baik dari sisi akademis melalui perancangan metode pembelajaran bervariasi maupun interpersonal melalui pendekatan emosional yang ramah—merupakan pemegang peranan paling dominan dalam mendorong keterlibatan siswa. Guna memaksimalkan potensi Kurikulum Merdeka, pihak sekolah diharapkan mampu membenahi fasilitas penunjang serta terus meningkatkan kompetensi pedagogis guru agar proses pembelajaran tidak sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan benar-benar memantik kemandirian dan daya kritis peserta didik.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

