Mengapa Prosedur Keselamatan Bedah Masih Sering Terabaikan? Ini Temuan Riset Terbaru
29 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli — Keselamatan pasien di ruang operasi kembali menjadi sorotan dunia kesehatan. Meski penerapan prosedur standar pencegahan risiko operasi telah terbukti secara global menekan angka komplikasi dan kematian, tingkat kepatuhan tenaga medis dalam menjalankannya dilaporkan masih belum merata. Sebuah kajian ilmiah terbaru menyingkap berbagai faktor penentu di balik konsistensi tim medis saat menerapkan prosedur keselamatan pembedahan di ruang operasi.

Penelitian berbasis kajian literatur (literature review) ini disusun oleh Setiadi Nugroho, seorang peneliti dari Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang. Berjudul “Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pelaksanaan Surgical Safety Checklist Patient Safety Di Ruang Operasi: Studi Literature Review”, studi ini membedah belasan hasil penelitian nasional dan internasional yang terbit dalam kurun waktu 2020 hingga 2023.

Melalui kajian komprehensif tersebut, Setiadi Nugroho bertujuan untuk mengidentifikasi secara mendalam faktor-faktor internal maupun eksternal yang memengaruhi disiplin tim bedah dalam mengimplementasikan Surgical Safety Checklist (SSC). Prosedur pemeriksaan yang digagas oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini mencakup tiga fase krusial, yakni tahapan sebelum induksi anestesi (Sign In), sebelum insisi kulit (Time Out), serta sebelum pasien meninggalkan ruang pembedahan (Sign Out).

Dari hasil sintesis terhadap 13 artikel ilmiah terpilih, Setiadi menemukan fakta bahwa secara umum mayoritas tim bedah memiliki tingkat kepatuhan yang tergolong tinggi, di mana 10 dari 13 riset mencatat responden dengan kriteria patuh. Meski demikian, disiplin dalam pengisian dan penerapan prosedur checklist keselamatan tersebut sangat tergantung pada sejumlah variabel dominan.

Faktor pengetahuan menjadi pemicu paling kuat yang memengaruhi kepatuhan perawat maupun tim pembedahan, yang mana terbukti dominan dalam 8 artikel yang dikaji. Pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai bahaya kesalahan medis secara langsung membentuk pola pikir kritis serta mendorong perilaku disiplin perawat dalam menjalankan setiap detail pemeriksaan keselamatan.

Selain pengetahuan, faktor motivasi kerja memegang peran penting kedua yang signifikan dalam 5 artikel kajian. Dorongan psikologis, apresiasi, serta lingkungan kerja yang kondusif terbukti memicu perawat untuk bekerja lebih teliti dan sejalan dengan pedoman yang ditetapkan. Latar belakang pendidikan juga berkontribusi positif dalam 4 artikel, di mana tingkat pendidikan yang lebih tinggi memudahkan tenaga medis dalam menyerap serta menerapkan protokol keselamatan berbasis bukti.

Kajian ilmiah ini juga menguraikan bahwa faktor-faktor pendukung lain seperti usia mature di atas 35 tahun, masa kerja lebih dari lima tahun, sikap positif tenaga kesehatan, hingga beban kerja harian turut memengaruhi pelaksanaan Surgical Safety Checklist di lapangan. Sementara itu, faktor jenis kelamin menjadi satu-satunya variabel yang ditemukan tidak memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat kepatuhan penerapan prosedur keselamatan pasien.

Melalui temuan ilmiah ini, Setiadi menegaskan pentingnya langkah strategis dari manajemen rumah sakit untuk terus menggelar sosialisasi, pelatihan berkala, serta evaluasi beban kerja bagi perawat kamar bedah. Pembenahan sistemik ini diharapkan mampu menjamin penerapan prosedur keselamatan operasi berjalan seratus persen demi melindungi pasien dari risiko insiden medis yang tidak diinginkan.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repsoitori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance