MAGELANG, Juli — Persaingan sekolah swasta dalam menggaet minat masyarakat kini semakin ketat. Tanpa inovasi dan pengelolaan mutu yang progresif, sebuah lembaga pendidikan terancam tertinggal. Fenomena ini ditangkap secara tajam oleh peneliti Dini Istiningsih dalam riset tesisnya di Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Magelang.
Dalam riset kualitatifnya, Dini menyoroti resep sukses dua sekolah Islam swasta terkemuka, yakni SMP Muhammadiyah 1 Alternatif (SMP Mutual) Kota Magelang dan SMP Muhammadiyah Plus (SMP Mplus) Gunungpring, Kabupaten Magelang.yoroti Kedua sekolah ini dinilai berhasil membangun identitas unggul lewat pendekatan manajemen mutu yang berbeda namun saling melengkapi.
Dini menemukan bahwa SMP Mutual Kota Magelang memilih jalurnya sendiri dalam mengelola mutu sekolah. Berbeda dari kebanyakan sekolah yang menggunakan pola POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), SMP Mutual di bawah kepemimpinan Wasi’un mengadopsi 14 Prinsip Manajemen Henry Fayol.
“Prinsip ini menekankan pembagian kerja yang spesifik, disiplin tinggi, hingga membangun esprit de corps atau semangat kebersamaan,” terang Dini dalam analisisnya.
Inovasi lain yang dihadirkan SMP Mutual adalah keberadaan program Literasi Pagi Guru selama 45 menit sebelum KBM. Melalui forum ini, para pengajar rutin saling berbagi praktik baik (best practice)—mulai dari penerapan pembelajaran diferensiasi, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI ChatGPT), hingga strategi pembelajaran berbasis gim.
Sementara itu, SMP Mplus Gunungpring di bawah arahan Efi Nurul Utami konsisten mempraktikkan manajemen POAC klasik yang responsif dan partisipatif. Budaya mendengar menjadi kunci: sebelum rapat koordinasi dimulai, kepala sekolah selalu membuka diri menerima kritik dan ide dari para guru.
Program Unggulan: Dari Boarding School Hingga Mplus Talent
Tak hanya rapi di ranah manajerial, kedua sekolah berhasil merancang program unggulan yang memikat orang tua.
-
SMP Mutual Kota Magelang mengusung dua lini utama: Full Day School (FDS) dan Boarding School. Fokusnya tak main-main, yakni pembentukan karakter terpadu, pembekalan lifeskill, serta target hafalan Al-Qur’an (tahfizh) minimal 3 juz.
- SMP Mplus Gunungpring mengembangkan program Full Day School, Sister School, serta program wadah minat-bakat bertajuk Mplus Talent. Tak kurang dari 20 cabang ekstrakurikuler dibuka—mulai dari kelas robotika, riset, karawitan, hingga olahraga memanah dan airsoft gun.
Penelitian Dini Istiningsih menekankan bahwa mutu lulusan tidak didapatkan secara instan, melainkan lewat penyaringan input dan pembinaan berkesinambungan.
SMP Mplus Gunungpring, misalnya, menerapkan seleksi masuk dua tahap yang cukup ketat—mencakup tes akademik, kemampuan membaca Al-Qur’an, tes psikologi, serta wawancara orang tua. Untuk menjaga akhlak siswa, aturan seperti larangan berkata kotor diterapkan ketat; pelanggar diminta membaca istigfar 100 kali serta menuliskan hadis tentang tutur kata yang baik.
Hasilnya pun terbukti di lapangan. Rangkaian strategi manajemen mutu dan penguatan karakter ini membawa kedua sekolah memanen puluhan prestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Melalui riset ini, Dini menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas sekolah swasta sangat bergantung pada keberanian kepemimpinan dalam melakukan pemetaan kebutuhan stakeholder dan keterbukaan terhadap perkembangan teknologi.
Ia mendorong para pengelola lembaga pendidikan untuk memegang prinsip “The quality is the first, brand image later”—utamakan kualitas terlebih dahulu, maka citra positif sekolah akan terbangun dengan sendirinya.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

