Bahaya Pola Asuh Longgar: Riset Temanggung Ungkap Sikap Permisif Orang Tua Picu Stunting pada Balita
29 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli — Masalah stunting pada anak usia dini kerap kali diidentikkan dengan kemiskinan atau minimnya akses pangan. Namun, sebuah temuan lapangan di Kabupaten Temanggung justru menyingkap fakta lain yang tidak kalah krusial: gaya pengasuhan orang tua yang terlalu longgar atau permisif berperan besar terhadap melonjaknya kasus tengkes (stunting) pada balita.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti Safira Nafi’ah dari Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang menyoroti secara mendalam hubungan antara pola asuh orang tua dan kejadian stunting pada balita usia 2 hingga 4 tahun di wilayah kerja Puskesmas Temanggung.

Melalui studi analitik yang melibatkan puluhan ibu balita di wilayah tersebut, Safira mengungkapkan bahwa sebagian besar orang tua yang anak balitanya mengalami stunting menerapkan pola asuh permisif. Dalam pola pengasuhan ini, orang tua cenderung bersikap serba membolehkan, kurang memberikan batasan, serta jarang mendampingi atau mengontrol kebiasaan makan anak secara disiplin.

Fakta di lapangan menunjukkan fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan. Banyak orang tua membiarkan balita mereka enggan mengonsumsi sayur, membiarkan anak melewatkan jam makan, hingga membebaskan mereka mengonsumsi makanan cepat saji atau jajanan sesuka hati tanpa pengawasan. Sikap acuh tak acuh dan kebebasan berlebih yang diberikan orang tua ini berujung pada tidak terpenuhinya asupan nutrisi harian yang dibutuhkan balita dalam masa emas pertumbuhannya.

Secara statistik, penelitian yang rampung pertengahan tahun ini mengonfirmasi adanya keterkaitan yang sangat signifikan antara gaya pengasuhan permisif dan risiko kegagalan tumbuh kembang anak. Peneliti menemukan bahwa balita yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis—di mana orang tua aktif membimbing, memperhatikan asupan gizi, dan sabar membujuk anak makan—memiliki status gizi yang jauh lebih baik dan terhindar dari risiko stunting.

Fenomena ini menjadi alarm penting bagi masyarakat dan tenaga kesehatan setempat. Kesibukan orang tua serta dominasi ibu yang bekerja kerap membuat perhatian terhadap kontrol nutrisi anak terabaikan. Padahal, pemenuhan gizi balita tidak sekadar menyediakan makanan di meja, melainkan membutuhkan ketelatenan, interaksi aktif, serta aturan yang konsisten dari orang tua.

Melalui temuan ini, Safira Nafi’ah menekankan pentingnya edukasi pola asuh sebagai prioritas dalam program pencegahan stunting. Upaya intervensi stunting di tingkat posyandu maupun puskesmas idealnya tidak hanya berfokus pada pembagian bantuan pangan tambahan, tetapi juga menyasar perbaikan perilaku dan cara orang tua mendidik serta mengawasi pola makan anak di rumah. Kesadaran dan keterlibatan aktif orang tua dalam menerapkan pola asuh yang responsif menjadi kunci utama agar anak dapat tumbuh optimal dan terbebas dari ancaman stunting.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance