MAGELANG, Juli  — Di tengah kuatnya arus budaya populer dan narasi global tentang Islam, media audio-visual seperti film religi kini memegang peranan strategis dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Berangkat dari realitas tersebut, seorang peneliti muda dari Universitas Muhammadiyah Magelang, Zahida Solusia Khoirunnisa’, melakukan kajian ilmiah mendalam mengenai muatan edukasi agama dalam karya sinematik populer Indonesia.
Melalui riset akademisnya yang berfokus pada tema nilai-nilai pendidikan Islam dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa, Zahida membedah bagaimana sebuah karya seni layar lebar mampu menjadi sarana dakwah dan media pembelajaran modern yang efektif. Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengidentifikasi pilar-pilar nilai pendidikan Islam yang tersirat maupun tersurat di dalam film, memetakan pesan moral yang disampaikan para tokohnya, serta menguji sejauh mana relevansi pesan-pesan tersebut dengan nilai-nilai otentik Al-Qur’an.
Hasil kajian riset pustaka ini menunjukkan bahwa film 99 Cahaya di Langit Eropa secara komprehensif mengintegrasikan empat fondasi utama pendidikan Islam, yaitu akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Dari aspek akidah, perjalanan tokoh Rangga dan Hanum di Eropa memperlihatkan keteguhan iman saat berhadapan dengan budaya asing, seperti ketegasan menjaga ketauhidan dan prinsip halal-haram di tengah lingkungan minoritas muslim.
Pada dimensi ibadah, penelitian ini mendapati bahwa film memperlihatkan keteladanan konsistensi menjalankan perintah agama, mulai dari kewajiban shalat lima waktu, ibadah puasa Ramadan, hingga komitmen menutup aurat yang tetap dipertahankan meski mendapat tekanan sosial. Sementara pada aspek akhlak dan muamalah, hasil riset menyoroti bagaimana karakter utama membalas prasangka serta tindakan kurang menyenangkan dengan kelembutan, kesabaran, dan diplomasi yang santun. Konsep warung makan seikhlasnya dan interaksi sosial yang inklusif turut menggambarkan hubungan kemanusiaan (hablum minannas) yang dinamis dan beradab.
Temuan penting lainnya mempertegas bahwa pesan moral utama dalam film ini menyuarakan citra Islam sebagai agama yang membawa kedamaian (rahmatan lil ‘alamin), menjunjung tinggi toleransi, serta menolak stigma radikalisme. Zahida menyimpulkan bahwa seluruh nilai pendidikan Islam yang disajikan dalam film tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat dan selaras dengan dalil-dalil Al-Qur’an, seperti perintah menegakkan shalat, anjuran berbuat baik kepada sesama, hingga etika bertransaksi secara adil.
Kemas ulang informasi melalui sudut pandang jurnalistik ini menegaskan bahwa film religi bukan sekadar sarana hiburan komersial, melainkan instrumen edukasi publik yang berdaya guna tinggi dalam merawat kerukunan dan memperluas wawasan keislaman masyarakat di era modern.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

