MAGELANG, Juli — Berada di lorong tunggu Intensive Care Unit (ICU) kerap menjadi momen paling menegangkan bagi keluarga pasien. Suara bip mesin pemantau jantung, selang medis yang terpasang, hingga batasan jam besuk tak jarang memicu kecemasan mendalam. Namun, di balik atmosfer medis yang dingin tersebut, ada faktor krusial yang terbukti mampu menjadi penawar rasa cemas keluarga: kepedulian dan perhatian (caring) dari seorang perawat.
Hal tersebut terungkap dalam hasil riset terbaru yang dilakukan oleh Ikhsan Kurniawan, peneliti dari Program Studi S1 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Magelang. Penelitian ini menelisik secara mendalam hubungan antara perilaku caring tenaga perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pasien yang sedang menjalani perawatan intensif di ruang ICU RS Harapan Kota Magelang.
Melalui studi analitik yang berlangsung sejak Maret hingga Juni 2024, Ikhsan menggali persepsi 23 responden dari pihak keluarga pasien. Fokus utama studi ini adalah untuk membuktikan secara terukur apakah perhatian, empati, dan komunikasi yang ditunjukkan perawat berdampak langsung pada kondisi psikologis penunggu pasien.
Hasil pengolahan data statistik membuktikan secara tegas bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat dan nyata antara perilaku caring perawat dengan tingkat kecemasan keluarga. Tingkat kepedulian yang ditunjukkan tenaga medis terbukti berbanding lurus dengan ketenangan emosional pihak keluarga.
Berdasarkan data penelitian, sebagian besar perawat dinilai memiliki perilaku caring pada kategori cukup dan baik. Sejalan dengan penilaian tersebut, mayoritas keluarga pasien berada dalam kondisi emosional yang stabil atau tidak mengalami cemas berlebih. Sebaliknya, ketika caring perawat dirasa kurang, tingkat kecemasan keluarga cenderung meningkat ke kategori sedang.
Sikap caring perawat—seperti memberi dorongan moral, mendengarkan keluhan dengan sabar, serta memberikan kepastian informasi terkait perkembangan kondisi pasien—ternyata menjadi pilar pendukung psikologis yang sangat dibutuhkan. Ketika perawat hadir tidak hanya sebagai pelaksana tugas medis tetapi juga sebagai pendamping yang berempati, beban mental keluarga dapat berkurang secara signifikan. Hal ini berimbas positif pada proses pengambilan keputusan medis yang sering kali membutuhkan ketenangan pikiran dari pihak keluarga.
Temuan ini menjadi catatan penting bagi manajemen layanan kesehatan dan rumah sakit. Peningkatan kompetensi perawat tidak cukup hanya berfokus pada keahlian teknis medis, tetapi juga harus menyentuh dimensi humanis melalui budaya caring yang berkelanjutan. Sebab di ruang perawatan kritis, sentuhan empati dan kehangatan komunikasi perawat bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari pemulihan holistik pasien dan keluarganya.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repsoitori UNIMMA

