MAGELANG, Juli – Serangan epilepsi yang datang tanpa peringatan tidak hanya mengganggu kondisi kesehatan penderitanya, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya cedera. Temuan tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan Agus Puji Santoso, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui skripsinya berjudul “Gambaran Cedera pada Klien Epilepsi di Puskesmas Pakis”.
Penelitian ini bertujuan menggambarkan jenis serta tingkat cedera yang dialami pasien epilepsi di Puskesmas Pakis. Selain itu, penelitian juga mengidentifikasi karakteristik pasien berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama menderita epilepsi sebagai dasar penyusunan upaya pencegahan cedera yang lebih efektif.
Menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, penelitian melibatkan 45 responden yang merupakan pasien epilepsi di Puskesmas Pakis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 86,7 persen responden mengalami cedera ringan, sedangkan masing-masing 4,4 persen mengalami cedera sedang, cedera berat, dan tidak mengalami cedera sama sekali.
Jenis cedera yang paling banyak ditemukan adalah cedera pada jaringan mukosa, seperti lidah atau bagian dalam mulut yang tergigit saat kejang, dengan persentase 40,8 persen. Cedera berikutnya adalah luka lecet sebesar 35,9 persen, disusul memar atau bengkak 16,5 persen. Penelitian juga mencatat adanya kasus luka bakar, tenggelam, kecelakaan lalu lintas, hingga cedera gigi, meski jumlahnya relatif sedikit.
Dari sisi karakteristik responden, mayoritas pasien berada pada kelompok usia 20–44 tahun sebanyak 51,1 persen. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah pasien laki-laki sedikit lebih banyak dibanding perempuan, sementara sebagian besar responden telah hidup dengan epilepsi selama lebih dari 10 tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko cedera masih menjadi ancaman bagi penyandang epilepsi, terutama ketika serangan terjadi secara tiba-tiba di lingkungan yang kurang aman.
Agus Puji Santoso menyimpulkan bahwa pencegahan cedera perlu menjadi bagian penting dalam penanganan pasien epilepsi. Edukasi kepada keluarga, pendamping, dan tenaga kesehatan mengenai cara memberikan pertolongan saat kejang dinilai dapat mengurangi risiko cedera sekaligus meningkatkan kualitas hidup penyandang epilepsi. Temuan ini diharapkan menjadi masukan bagi fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya puskesmas, dalam memperkuat upaya promotif dan preventif bagi pasien epilepsi di masyarakat.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

