Menyelisik Potensi Limbah Kulit Singkong Jadi Bahan Bakar Setara Batubara Lewat Teknologi Gelombang Mikro
29 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli — Di tengah ancaman krisis energi fosil dan tingginya limbah industri olahan pangan lokal, sebuah inovasi bahan bakar terbarukan muncul dari Magelang. Limbah kulit ketela atau singkong yang selama ini melimpah dari sentra kerajinan getuk kini berhasil disulap menjadi bio-briket berkualitas tinggi dengan nilai kalor mendekati batubara.

Inovasi tersebut lahir dari riset mendalam yang dilakukan oleh Iftikar Flour Nadhif, peneliti muda dari Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang. Melalui studi eksperimental bertajuk proses torefaksi berbasis gelombang mikro (microwave), Iftikar berhasil memproses limbah organik menjadi bahan bakar padat terbarukan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memenuhi standar industri nasional.

Magelang dikenal luas sebagai produsen oleh-oleh olahan singkong seperti getuk, pothil, dan slondok. Namun, tingginya produksi pangan ini menyisakan persoalan limbah. Dari total puluhan ribu ton singkong yang dipanen saban tahunnya, sekitar 16 persen di antaranya berakhir sebagai limbah kulit.

Berangkat dari kegelisahan terhadap penumpukan limbah dan kian menipisnya cadangan minyak bumi, Iftikar berupaya meningkatkan kualitas bio-massa kulit singkong tersebut. Caranya adalah dengan metode torefaksi—proses pemanasan termokimia pada suhu rendah tanpa oksigen untuk menguapkan kadar air dan zat terbang yang kurang menguntungkan.

“Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana limbah kulit ketela dapat diolah menjadi briket arang yang layak dan memenuhi parameter Standar Nasional Indonesia (SNI No. 1/6235/2000),” jelas Iftikar dalam laporannya.

Berbeda dari metode karbonisasi konvensional, Iftikar memanfaatkan energi radiasi gelombang mikro (microwave). Penggunaan teknologi ini terbukti mempercepat laju pemanasan, menghemat konsumsi energi proses, serta menghasilkan kerapatan energi yang lebih tinggi pada produk akhir.

Dalam eksperimennya, Iftikar menguji tiga parameter utama, yaitu variasi suhu (200°C, 250°C, dan 300°C), durasi waktu tunggu (30, 45, dan 60 menit), serta tingkat daya (power level) microwave (defrost, medium low, dan medium).

Setiap sampel arang hasil torefaksi kemudian diuji nilai kalornya di Laboratorium Kimia Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) serta dianalisis komposisi proksimatnya.

Dari pengujian ilmiah tersebut, terungkap sejumlah temuan penting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan pengaturan waktu proses yang tepat berpengaruh signifikan terhadap kualitas arang.

Pada parameter variasi suhu, pemrosesan pada 250°C dan 300°C berhasil menghasilkan briket yang lolos pengujian SNI. Nilai kalor tertinggi dicapai pada suhu 300°C, yakni menyentuh angka 5.680,96 kalori per gram—jauh melampaui ambang batas minimal SNI sebesar 5.000 kalori per gram. Kandungan karbon terikatnya pun sangat tinggi, mencapai lebih dari 84 persen dengan kadar air dan zat menguap yang sangat rendah.

Sementara pada uji variasi waktu, durasi penahanan selama 30 menit dan 45 menit menjadi waktu paling optimal. Proses 30 menit bahkan mampu mendongkrak nilai kalor hingga 5.692,38 kalori per gram. Adapun untuk variabel daya microwave, setelan medium low (daya terukur 1.380,6 Watt) terbukti menjadi kombinasi paling pas untuk menghasilkan pembakaran sempurna yang memenuhi standar kelayakan.

Temuan riset ini mengonfirmasi bahwa limbah kulit singkong tidak lagi sekadar sampah organik tak bernilai. Lewat sentuhan teknologi torefaksi gelombang mikro, limbah ini dapat ditransformasikan menjadi bio-briket berdaya bakar tinggi, efisien, dan beremisi rendah.

Ke depan, penerapan inovasi ini diharapkan tidak hanya membantu memangkas ketergantungan masyarakat pada bahan bakar fosil dan LPG, tetapi juga menjadi solusi konkret bagi penanganan limbah industri pangan lokal secara berkelanjutan.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance