MAGELANG, Juli – Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan di Puskesmas Pakis, Kabupaten Magelang, dinilai telah berjalan dengan baik. Meski demikian, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat, terutama dalam peningkatan edukasi kesehatan dan partisipasi peserta pada kegiatan senam rutin sebagai upaya pencegahan komplikasi penyakit kronis.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian Isniyatun, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui skripsi berjudul Gambaran Pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan di Puskesmas Pakis Kabupaten Magelang.
Penelitian ini mengangkat tema efektivitas pelaksanaan Prolanis sebagai layanan terpadu bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis, khususnya diabetes melitus dan hipertensi. Tujuannya adalah menggambarkan bagaimana implementasi program tersebut di Puskesmas Pakis, mulai dari pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, pemeriksaan laboratorium, senam Prolanis, penyuluhan kesehatan, hingga pelayanan obat. Penelitian dilakukan terhadap 100 peserta Prolanis menggunakan metode deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden menilai pelaksanaan Prolanis telah berjalan baik. Sebanyak 67 persen responden menyatakan program terlaksana dengan baik, 28 persen menilai cukup baik, sedangkan hanya 5 persen yang menilai belum berjalan optimal.
Jika ditinjau berdasarkan setiap layanan, pelayanan obat memperoleh penilaian terbaik dengan capaian 59 persen, disusul penyuluhan dan edukasi kesehatan 58 persen, pemeriksaan kesehatan serta konsultasi dokter 54 persen, pemeriksaan gula darah dan pemeriksaan kimia darah 53 persen, serta senam Prolanis 53 persen. Data tersebut menunjukkan seluruh komponen utama program telah terlaksana, meskipun tingkat partisipasi peserta dalam beberapa kegiatan masih dapat ditingkatkan.
Penelitian ini juga mencatat bahwa Prolanis di Puskesmas Pakis telah diselenggarakan sejak 2018 dan terus berkembang. Namun, tantangan yang masih dihadapi antara lain rendahnya antusiasme sebagian peserta mengikuti senam Prolanis serta kurang optimalnya perhatian peserta terhadap materi penyuluhan kesehatan. Kondisi tersebut dinilai berpengaruh terhadap kepatuhan menjalankan pola hidup sehat, terutama bagi penyandang diabetes melitus dan hipertensi.
Berdasarkan temuan tersebut, Isniyatun merekomendasikan agar pelaksanaan Prolanis terus diperkuat melalui peningkatan kegiatan edukasi kesehatan, optimalisasi senam rutin, serta penambahan tenaga perawat pengelola. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus membantu peserta mengendalikan penyakit kronis sehingga risiko komplikasi dapat ditekan dan kualitas hidup mereka semakin baik.(ede.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

