MAGELANG, Juli — Persoalan kekosongan guru spesialis Pendidikan Agama Islam selama satu dekade di SD Negeri Karanganyar, Kecamatan Borobudur, sempat menyisakan tantangan besar bagi efektivitas pembelajaran siswa. Pengajaran yang bertahun-tahun diampu oleh guru kelas dengan metode ceramah konvensional memicu kejenuhan, membuat peserta didik cenderung pasif, hingga berdampak pada rendahnya pencapaian akademis. Menjawab permasalahan mendasar tersebut, seorang peneliti dari Universitas Muhammadiyah Magelang, Muhammad Rozaqna Mustakim, menggelar riset tindakan kelas untuk menguji efektivitas metode demonstrasi dalam mendongkrak pemahaman siswa.
Fokus riset ini berpusat pada penelusuran penerapan metode demonstrasi terhadap hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya pada materi pelafalan dan pemahaman Surat At-Tin serta Surat Al-Ma’un bagi siswa kelas lima. Melalui pendekatan praktis ini, riset bertujuan untuk membuktikan apakah peragaan langsung oleh pengajar yang dilanjutkan dengan praktik mandiri oleh siswa mampu merangsang keaktifan kelas, mengikis kebosanan, sekaligus memperbaiki makhraj bacaan Al-Qur’an secara signifikan.
Sebelum metode peragaan ini diterapkan, kondisi awal atau pra-siklus mencatat data ketuntasan yang cukup memprihatinkan. Dari seluruh siswa kelas lima yang berjumlah tujuh orang, hanya dua anak atau sekitar dua puluh sembilan persen yang berhasil melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal dengan nilai rata-rata kelas berada pada angka tujuh puluh tiga. Mayoritas siswa kesulitan menguasai bacaan tartil karena pembelajaran sebelumnya kurang memberikan ruang untuk contoh konkret dan latihan fisik secara intensif.
Melihat fakta lapangan tersebut, intervensi Penelitian Tindakan Kelas dirancang dan dieksekusi dalam dua siklus berturut-turut. Pada siklus pertama yang membedah materi Surat At-Tin, peneliti mulai mendemonstrasikan pelafalan ayat demi ayat secara langsung di hadapan siswa sebelum mereka diminta mempraktikkannya kembali. Hasilnya, ketuntasan belajar melesat menjadi lima puluh tujuh persen atau empat siswa tuntas dengan rata-rata nilai kelas naik menjadi tujuh puluh enam. Meski menunjukkan tren positif, pencapaian ini belum memenuhi target indikator keberhasilan riset yang ditetapkan sebesar tujuh puluh dua persen.
Penyempurnaan kemudian dilakukan pada siklus kedua dengan mengoptimalkan pengkondisian kelas dan interaksi tutor sebaya saat mempelajari Surat Al-Ma’un. Langkah evaluatif ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tingkat ketuntasan belajar siswa melompat drastis hingga mencapai delapan puluh enam persen, di mana enam dari tujuh siswa berhasil lulus KKM dan nilai rata-rata kelas melonjak hingga angka delapan puluh empat.
Keberhasilan eksperimen ini menegaskan bahwa penggunaan metode demonstrasi terbukti efektif mengubah dinamika kelas menjadi lebih hidup dan komunikatif. Peneliti menyimpulkan bahwa peragaan visual dan praktik langsung tidak hanya ampuh mengikis kejenuhan materi hafalan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi instrumen krusial dalam meningkatkan capaian hasil belajar siswa secara berkelanjutan.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

