MAGELANG, Juli – Pendekatan Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM) kembali menunjukkan efektivitasnya dalam dunia pendidikan dasar. Melalui penelitian yang dilakukan Afifah Zahra Arinda Ramadhanti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Magelang, pendekatan pembelajaran terpadu tersebut terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V di MI Tarbiyatussibyan 1 Sidosari.
Penelitian bertema “Pengaruh Pendekatan STEAM terhadap Kemampuan Berpikir Kritis pada Siswa Kelas V” ini dilatarbelakangi masih rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran IPA. Proses belajar yang cenderung konvensional membuat siswa kurang aktif menganalisis persoalan, menyampaikan pendapat, maupun menghubungkan materi dengan situasi nyata. Kondisi tersebut mendorong peneliti menguji efektivitas pendekatan STEAM sebagai alternatif pembelajaran yang lebih interaktif dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Penelitian menggunakan metode Pre-Experimental Design dengan model One Group Pretest-Posttest Design. Sebanyak 20 siswa dijadikan sebagai kelas eksperimen dan diberikan pembelajaran STEAM pada materi zat tunggal dan campuran. Kemampuan berpikir kritis diukur melalui tes uraian yang diberikan sebelum dan sesudah penerapan metode pembelajaran tersebut. Analisis data dilakukan menggunakan Paired Sample T-Test berbantuan IBM SPSS Statistics versi 26.0.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan berpikir kritis siswa setelah mengikuti pembelajaran berbasis STEAM. Nilai rata-rata peserta didik meningkat dari 54,43 pada pretest menjadi 84,40 pada posttest. Secara statistik, nilai signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 menandakan bahwa pendekatan STEAM memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa.
Menurut Afifah Zahra Arinda Ramadhanti, penerapan STEAM berjalan melalui tahapan pengamatan, pencarian ide baru, inovasi, kreasi, hingga refleksi nilai. Tahapan tersebut mendorong siswa lebih aktif mengeksplorasi konsep, bekerja sama, memecahkan masalah, serta menyampaikan argumentasi secara logis selama proses pembelajaran berlangsung.
Temuan ini memperkuat bahwa pendekatan STEAM tidak hanya membantu siswa memahami materi pelajaran, tetapi juga membangun keterampilan abad ke-21 yang semakin dibutuhkan, terutama kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Peneliti juga merekomendasikan agar sekolah memberikan dukungan terhadap penerapan model pembelajaran inovatif melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai sehingga implementasi STEAM dapat berjalan lebih optimal di lingkungan pendidikan dasar.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

