Kesadaran Mahasiswa Farmasi terhadap Perawatan Paliatif Masih Perlu Ditingkatkan, Penelitian Riska Ungkap Sejumlah Miskonsepsi
31 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli Perawatan paliatif menjadi salah satu layanan kesehatan yang semakin dibutuhkan seiring meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit kronis dan terminal. Namun, pemahaman calon tenaga kesehatan terhadap konsep tersebut ternyata masih memerlukan perhatian serius. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan Riska, mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui skripsinya yang berjudul “Penilaian Kesadaran Perawatan Paliatif di Kalangan Mahasiswa Farmasi.”

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat pengetahuan dan kesadaran mahasiswa farmasi mengenai perawatan paliatif, mulai dari definisi, filosofi, komunikasi prognosis, hingga penggunaan morfin dalam praktik pelayanan kesehatan. Penelitian dilakukan secara deskriptif menggunakan pendekatan cross-sectional terhadap 145 mahasiswa farmasi dan profesi apoteker dari Universitas Muhammadiyah Magelang dan Universitas Islam Sultan Agung Semarang melalui penyebaran kuesioner.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan pemahaman pada aspek-aspek mendasar perawatan paliatif. Hanya 32,5% responden yang mampu mengidentifikasi definisi perawatan paliatif secara tepat. Sebagian besar mahasiswa masih menganggap perawatan paliatif hanya sebatas pemberian obat pereda nyeri, padahal layanan ini mencakup pendampingan menyeluruh untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa beserta keluarganya.

Di sisi lain, penelitian juga menemukan sejumlah capaian positif. Mayoritas responden telah memahami filosofi dasar perawatan paliatif, pentingnya komunikasi prognosis kepada pasien, serta komponen “kematian yang baik” yang meliputi pengendalian nyeri, pengambilan keputusan secara jelas, dan persiapan menghadapi akhir kehidupan. Tingkat pemahaman pada aspek-aspek tersebut berada pada kisaran 59–76 persen.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah rendahnya pemahaman mengenai penggunaan morfin dalam perawatan paliatif. Hanya sekitar 35,6% responden yang memahami manfaat morfin secara benar. Sebagian besar mahasiswa masih memiliki persepsi keliru bahwa morfin dapat mengatasi semua jenis nyeri atau identik dengan ketergantungan, padahal penggunaannya dalam perawatan paliatif memiliki indikasi dan pengawasan medis yang jelas. Pengetahuan mengenai efek samping morfin juga masih terbatas, sehingga menunjukkan perlunya penguatan materi farmakoterapi paliatif di lingkungan pendidikan kesehatan.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan agar pendidikan mengenai perawatan paliatif diintegrasikan lebih komprehensif ke dalam kurikulum pendidikan farmasi. Penguatan kompetensi sejak masa perkuliahan dinilai penting agar lulusan farmasi memiliki kesiapan memberikan pelayanan yang berorientasi pada kualitas hidup pasien, bekerja dalam tim multidisiplin, serta mampu mendukung pelayanan kesehatan yang lebih humanis di masa mendatang.

SEO Keywords: Perawatan paliatif, mahasiswa farmasi, penelitian farmasi, Universitas Muhammadiyah Magelang, pendidikan farmasi, kesadaran perawatan paliatif, penggunaan morfin, pelayanan kesehatan paliatif.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance