Solusi Ergonomi Industri Mebel: Mengapa Postur Kerja Mampu Dongkrak Produktivitas Karyawan?
30 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli — Aktivitas memotong kayu dan mengamplas furnitur sekilas tampak seperti pekerjaan fisik biasa. Namun, di balik tumpukan papan dan riuhnya suara mesin, terdapat ancaman nyata bagi kesehatan pekerja berupa cedera otot dan tulang. Fenomena inilah yang melatarbelakangi penelitian mendalam oleh Arkan Defend Yudha Purnomo, seorang peneliti dari Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Magelang.

Melalui studi kasus di UKM Mebel Chambali Industries yang berlokasi di Purworejo, Arkan mencermati dampak postur kerja tidak alami terhadap beban fisik serta kenyamanan para buruh kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kelelahan fisik dan risiko postur kerja karyawan, sekaligus merumuskan usulan perbaikan fasilitas kerja yang ergonomis demi menekan angka kehilangan jam kerja.

Dalam proses produksinya, UKM Chambali Industries mengandalkan peralatan semi-otomatis untuk memenuhi pesanan kustom. Sayangnya, posisi alat penunjang yang kurang ideal memaksa para pekerja membungkuk, berjongkok, hingga memutar tubuh secara berulang dalam durasi lama. Kondisi lingkungan kerja yang kurang memadai ini terbukti memicu keluhan muskuloskeletal, terutama pada bagian pinggang, punggung, lutut, dan betis. Catatan perusahaan bahkan menunjukkan bahwa tingkat kelelahan dan ketidaknyamanan tersebut berkontribusi langsung pada hilangnya ribuan jam kerja efisien selama setahun.

Hasil temuan Arkan mengungkap bahwa mayoritas pekerja menanggung beban fisik yang melebihi batas aman kelelahan. Dari lima karyawan yang diamati, empat di antaranya berada pada kategori beban kerja fisik yang memerlukan perbaikan stasiun kerja. Evaluasi lebih lanjut pada postur tubuh pekerja di bagian pemotongan dan pengamplasan menunjukkan tingkat risiko yang masuk dalam kategori tinggi. Sikap kerja statis, lekukan punggung yang tajam, serta posisi lutut yang menekuk ekstrem menuntut adanya tindakan korektif sesegera mungkin guna mencegah gangguan kesehatan jangka panjang.

Sebagai langkah konkret, Arkan merancang ulang meja kerja yang disesuaikan langsung dengan dimensi tubuh atau antropometri spesifik pekerja. Meja kerja baru setinggi 87 sentimeter dan lebar jangkauan 76 sentimeter dihadirkan agar proses pemotongan kayu dapat dilakukan dengan posisi berdiri tegak dan tubuh yang seimbang. Hasilnya sangat signifikan. Penerapan fasilitas kerja ergonomis ini terbukti berhasil menurunkan skor risiko postur kerja dari tingkat tinggi menjadi tingkat rendah yang jauh lebih aman bagi tubuh.

Penelitian ini menegaskan pentingnya perhatian pelaku industri kecil menengah terhadap aspek ergonomi. Pembenahan sederhana pada stasiun kerja tidak hanya melindungi kesehatan para pekerja dari risiko cedera, tetapi juga menjadi kunci utama dalam menjaga efisiensi dan kelancaran arus produksi secara berkelanjutan.(ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance