Dispepsia Masih Didominasi Usia Produktif, Ungkap Pola Makan Jadi Faktor Risiko Terbesar
30 July 2026

Admin KUI-KIMMI

MAGELANG, Juli – Kasus dispepsia atau gangguan saluran cerna masih menjadi perhatian di dunia kesehatan. Penelitian yang dilakukan Indah Pratiwi, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, mengungkap bahwa pola makan tidak teratur menjadi faktor risiko yang paling banyak ditemukan pada pasien dispepsia yang menjalani perawatan di RSUD Tidar Kota Magelang.

Melalui penelitian berjudul Gambaran Faktor Risiko Pasien Dispepsia di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Tidar Kota Magelang, Indah bertujuan memetakan karakteristik dan faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi munculnya dispepsia. Penelitian deskriptif kuantitatif tersebut melibatkan pasien rawat inap penyakit dalam selama Mei hingga Juni 2024 untuk memberikan gambaran kondisi nyata di lapangan.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien dispepsia berasal dari kelompok dewasa muda berusia 20–44 tahun dengan persentase 50 persen. Selain itu, penderita lebih banyak berjenis kelamin perempuan (62,5 persen), memiliki pendidikan menengah hingga perguruan tinggi (52,5 persen), serta masih aktif bekerja (57,5 persen). Temuan ini menunjukkan bahwa dispepsia banyak dialami masyarakat usia produktif yang memiliki aktivitas padat.

Dari berbagai faktor yang dikaji, pola makan tidak teratur menjadi temuan paling menonjol. Sebanyak 70 persen responden mengaku memiliki kebiasaan makan yang tidak teratur. Peneliti juga menemukan lebih dari separuh responden mengalami tingkat stres sedang (55 persen), sementara 60 persen memiliki indeks massa tubuh normal. Di sisi lain, mayoritas pasien tidak memiliki riwayat konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dalam jangka panjang maupun kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman yang bersifat iritatif.

Dalam pembahasannya, Indah Pratiwi menjelaskan bahwa usia produktif sering kali dihadapkan pada tuntutan pekerjaan dan aktivitas yang padat sehingga waktu makan kerap terabaikan. Kondisi tersebut, ditambah tingkat stres yang cukup tinggi, berpotensi meningkatkan risiko munculnya keluhan dispepsia.

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi tenaga kesehatan dalam memperkuat edukasi mengenai pentingnya menjaga pola makan, mengelola stres, serta menerapkan gaya hidup sehat sebagai langkah pencegahan dispepsia. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kebiasaan sehari-hari demi mengurangi risiko gangguan saluran cerna. (ed.adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance