MAGELANG, Juli — Lorong dan ruang tunggu kamar operasi kerap menjadi tempat yang menakutkan bagi anak-anak usia prasekolah. Bayangan jarum suntik, baju steril petugas medis, hingga ancaman perpisahan sementara dari orang tua kerap memicu tangisan dan penolakan hebat. Namun, sebuah studi karya Lail Musfiroh, peneliti sekaligus perawat dari Universitas Muhammadiyah Magelang, menawarkan solusi sederhana namun efektif untuk mengatasi trauma tersebut: terapi bermain.
Lewat studi penelusuran literatur ilmiah yang ia selami, Lail mengkaji secara mendalam bagaimana pendekatan bermain dapat meredam ketakutan pasien anak sebelum memasuki meja pembedahan. Fokus penelitian ini bertujuan untuk memetakan kondisi psikologis anak usia prasekolah saat fase prapembedahan, mengidentifikasi variasi metode bermain yang diterapkan di rumah sakit, serta mengukur sejauh mana terapi ini sanggup menurunkan tingkat kecemasan mereka.
Hasil penelusuran terhadap berbagai riset klinis menunjukkan fenomena yang amat konsisten. Sebelum mendapatkan intervensi, mayoritas anak usia prasekolah yang dijadwalkan menjalani operasi berada dalam kondisi cemas tingkat sedang hingga berat. Rasa takut akan rasa sakit, cedera fisik, serta lingkungan medis yang asing membuat pertahanan mental mereka runtuh. Namun, lanskap psikologis tersebut berubah signifikan begitu anak-anak diajak terlibat dalam aktivitas bermain.
Variasi permainan yang diberikan ternyata memberikan dampak yang luar biasa. Mulai dari aktivitas sederhana seperti mewarnai buku gambar, bermain boneka dan peralatan rumah tangga miniatur, menonton pertunjukan panggung boneka, hingga bermain gim edukatif pada gawai. Lewat media bermain ini, perhatian anak teralih secara alami dari rasa takut menuju dunia imajinasi mereka yang menyenangkan.
Hasil akhir penelitian mengonfirmasi bahwa terapi bermain terbukti secara nyata memangkas tingkat kecemasan anak prasekolah hingga ke titik terendah. Pasien anak yang sebelumnya histeris dan menolak berpisah dari orang tua menjadi jauh lebih tenang, kooperatif, serta siap menjalani prosedur anestesi dan pembedahan dengan kondisi emosional yang jauh lebih stabil.
Temuan ini membawa pesan penting bagi dunia keperawatan dan manajemen rumah sakit untuk mulai mengintegrasikan fasilitas terapi bermain di area perawatan anak. Mengubah suasana rumah sakit menjadi lebih ramah anak tidak hanya mempermudah tugas tim medis, tetapi juga memberikan pengalaman medis yang jauh lebih merangkul dan minim trauma bagi buah hati.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

