MAGELANG, Juli — Penanganan pasien dalam kondisi gawat darurat kerap diposisikan sebagai medan ujian terberat bagi fasilitas kesehatan. Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), keputusan yang diambil dalam hitungan detik tak hanya menuntut ketepatan diagnosis dan kecepatan tindakan, melainkan juga komunikasi yang solid antarberbagai profesi kesehatan. Berangkat dari dinamika penuh tekanan tersebut, sebuah penelitian mendalam yang dilakukan oleh peneliti Christina Diah Ikawati Karaeng mengungkap potret nyata praktik kolaborasi interprofesional kesehatan di IGD RSUD Tidar Kota Magelang.
Melalui penelitian skripsi ber judul “Analisis Praktik Kolaborasi Interprofesional Kesehatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Tidar Kota Magelang”, Christina meneliti bagaimana dinamika kerja sama lintas profesi berlangsung di garda terdepan pelayanan medis. Riset ini bertujuan untuk memetakan gambaran objektif mengenai sejauh mana praktik kolaborasi interprofesional—yang mencakup indikator kemitraan, kerja sama, dan koordinasi—telah diterapkan oleh para tenaga kesehatan, sekaligus melihat keterkaitannya dengan karakteristik demografis responden seperti usia, tingkat pendidikan, lama pengalaman kerja, serta latar belakang profesi.
Guna mencapai tujuan tersebut, Christina melibatkan 105 tenaga kesehatan di IGD RSUD Tidar Kota Magelang sebagai responden. Kelompok ini terdiri dari dokter jaga, perawat, bidan, analis laboratorium, radiografer, hingga apoteker rawat jalan. Dengan mengadopsi instrumen Assessment of Interprofessional Team Collaboration Scale (AITCS-II) yang teruji secara akademis, data diolah menggunakan analisis statistik deskriptif dan tabulasi silang untuk menggali persepsi para praktisi lapangan secara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan kabar menggembirakan bagi mutu pelayanan kesehatan di Kota Magelang. Secara umum, praktik kolaborasi interprofesional di IGD RSUD Tidar tergolong dalam kategori sangat baik dengan nilai rata-rata keseluruhan mencapai 4,42 dari skala 5,00. Jika dibedah per indikator, aspek kerja sama menempati urutan tertinggi dengan rata-rata 4,60. Hal ini menandakan adanya rasa saling percaya, keharmonisan, dan sikap saling menghormati batas kewenangan antaranggota tim medis. Sementara itu, indikator koordinasi mencatatkan nilai rata-rata 4,34 dan kemitraan sebesar 4,33, yang menegaskan bahwa proses penyelesaian konflik serta keterlibatan pasien dan keluarga dalam perencanaan asuhan medis sudah berjalan pada koridor yang tepat.
Secara spesifik, temuan tabulasi silang memperlihatkan dinamika menarik pada karakteristik responden. Dari sisi latar belakang profesi, radiografer memberikan penilaian tertinggi terhadap efektivitas kolaborasi tim. Berdasarkan faktor usia dan pengalaman kerja, kelompok tenaga kesehatan berusia di atas 56 tahun serta staf dengan masa kerja 16 hingga 20 tahun mencatatkan tingkat persepsi kolaborasi paling matang. Jam terbang yang panjang terbukti memperkuat kepercayaan diri, kematangan komunikasi, serta keterampilan navigasi kerja sama lintas disiplin. Selain itu, tenaga kesehatan dengan jenjang pendidikan Sarjana (S1) juga menunjukkan pemahaman praktik kolaboratif yang sangat baik.
Secara keseluruhan, riset ini memberikan gambaran jernih bahwa penerapan standar komunikasi efektif seperti instrumen Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) dan Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT) di RSUD Tidar telah menjadi pilar utama dalam menjaga keselamatan pasien (patient safety). Meski demikian, penelitian ini memberikan rekomendasi strategis bagi pihak manajemen rumah sakit untuk menyusun standar operasional prosedur (SOP) khusus kolaborasi interprofesional, menyediakan ruang diskusi yang memadai, serta menggelar pelatihan rutin guna terus mengikis hambatan hierarki profesi demi pelayanan gawat darurat yang kian prima.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

