MAGELANG, Juli — Masalah pelanggaran tata tertib sekolah seperti terlambat datang, membolos, hingga kurangnya ketertiban atribut kerap menjadi tantangan pelik dalam dunia pendidikan. Menyikapi hal tersebut, sebuah riset eksperimental yang dilakukan oleh Prissianingsih dari Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Magelang menyoroti efektivitas pendekatan psikologis dalam membentuk karakter dan tingkat ketaatan para peserta didik.
Penelitian yang mengambil lokasi di MAN 1 Magelang ini berfokus pada penerapan teknik self management (manajemen diri) untuk menurunkan berbagai masalah kedisiplinan siswa di lingkungan sekolah. Berdasarkan studi pendahuluan, tercatat tingkat pelanggaran tata tertib harian mencapai 59 persen, dengan berbagai dinamika seperti kebiasaan tidur larut malam akibat penggunaan gawai hingga pengaruh interaksi sebaya.
Tujuan utama riset ini adalah menguji secara terukur apakah pemberian intervensi self management yang berbasis pendekatan behaviorisme mampu mengubah perilaku maladaptif siswa menjadi lebih tertib dan bertanggung jawab. Eksperimen ini melibatkan enam orang siswa yang memiliki catatan pelanggaran di atas 40 poin sebagai partisipan penelitian.
Metode yang digunakan dalam riset ini adalah Single Subject Research (SSR) dengan desain eksperimen A-B-A. Peneliti melakukan pengukuran berkala mulai dari kondisi awal sebelum intervensi (baseline A1), pemberian program intervensi (B), hingga evaluasi akhir setelah perlakuan dihentikan (baseline A2). Dalam tahap intervensi, para siswa dibimbing untuk mengenali akar masalahnya sendiri, menetapkan target perubahan, memantau aktivitas sehari-hari melalui jurnal mandiri (self report), serta menerapkan mekanisme reward and punishment yang disepakati bersama.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan frekuensi masalah kedisiplinan yang sangat signifikan pada seluruh partisipan. Melalui analisis percent agreement yang menafsirkan bahwa semakin kecil persentase kesepakatan munculnya pelanggaran di akhir intervensi maka semakin efektif perlakuan yang diberikan, seluruh subjek mencatatkan tren perubahan positif.
Sebagai contoh, perilaku keterlambatan dan kebiasaan membolos mengalami penurunan drastis setelah siswa terbiasa mencatat dan mengawasi pola waktu harian mereka. Siswa tidak lagi merasa dipaksa oleh aturan eksternal, melainkan terdorong oleh kesadaran internal untuk mencapai target perilaku yang telah mereka rancang sendiri pada lembar kerja.
Temuan ini membuktikan bahwa pembinaan disiplin sekolah tidak melulu harus mengandalkan sanksi fisik atau teguran formal yang acap kali dianggap angin lalu oleh siswa. Melalui pelatihan pengawasan dan evaluasi diri yang konsisten, pendekatan psikologi self management terbukti menjadi alternatif intervensi yang humanis sekaligus efektif untuk menumbuhkan budaya disiplin di sekolah.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

