MAGELANG, Juli – Paparan asap rokok di dalam rumah kembali menjadi sorotan setelah penelitian yang dilakukan Ryanda Fikri Husein, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, menemukan adanya hubungan antara jumlah konsumsi rokok anggota keluarga dengan tingkat keparahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita di wilayah kerja Puskesmas Paron 1, Kabupaten Ngawi. Tema penelitian tersebut diangkat mengingat tingginya angka kasus ISPA pada balita yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah semakin banyak rokok yang dikonsumsi anggota keluarga di dalam rumah berpengaruh terhadap tingkat keparahan ISPA yang dialami balita. Fokus tersebut dipilih karena balita merupakan kelompok paling rentan terhadap paparan asap rokok akibat sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna, sementara Kabupaten Ngawi tercatat memiliki angka perilaku merokok yang relatif tinggi.
Menggunakan desain penelitian analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional, Ryanda melibatkan 64 responden yang memiliki balita dengan ISPA di wilayah kerja Puskesmas Paron 1. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk mengukur hubungan antara jumlah konsumsi rokok anggota keluarga dengan tingkat keparahan penyakit pada balita.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori konsumsi rokok sedang, sedangkan kondisi balita didominasi oleh ISPA ringan dan sedang. Namun, ketika konsumsi rokok anggota keluarga meningkat hingga kategori berat, proporsi balita yang mengalami ISPA berat juga meningkat secara nyata.
Uji statistik memperkuat temuan tersebut. Penelitian memperoleh nilai p = 0,000 dengan koefisien korelasi r = 0,533, yang menunjukkan adanya hubungan positif dengan kekuatan korelasi sedang antara jumlah konsumsi rokok di dalam rumah dan tingkat keparahan ISPA pada balita. Artinya, semakin tinggi konsumsi rokok anggota keluarga di lingkungan rumah, semakin besar pula kecenderungan balita mengalami ISPA dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Ryanda menyimpulkan bahwa upaya menekan angka ISPA pada balita tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku keluarga, terutama dalam mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan merokok di dalam rumah. Temuan ini diharapkan menjadi masukan bagi tenaga kesehatan dan pemerintah daerah untuk memperkuat edukasi mengenai bahaya asap rokok bagi anak, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan rumah yang lebih sehat bagi tumbuh kembang balita.(ed.adm_kuikimmi)
Sumber: repositori UNIMMA

