Magelang, Juni 2026 — Motivasi belajar menjadi salah satu kunci utama keberhasilan siswa dalam menempuh pendidikan. Tanpa motivasi yang kuat, proses pembelajaran sering kali berjalan kurang optimal dan berdampak pada rendahnya pencapaian akademik. Fenomena inilah yang mendorong Hanif Al Huda, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi motivasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 5 Kota Magelang.
Melalui skripsinya yang berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar PAI Siswa SMAN 5 Kota Magelang”, Hanif berupaya mengungkap sejauh mana minat belajar, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI. Penelitian ini dilakukan karena masih ditemukan gejala rendahnya antusiasme sebagian siswa saat mengikuti pembelajaran PAI, seperti kurang fokus di kelas, lebih tertarik mengobrol dengan teman, hingga munculnya rasa bosan akibat metode pembelajaran yang dianggap monoton.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian lapangan. Sebanyak 51 siswa kelas X dan XI dipilih sebagai responden melalui teknik random sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket tertutup dengan skala Likert untuk mengukur tingkat minat belajar, kondisi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan motivasi belajar siswa.
Dalam penelitiannya, Hanif memfokuskan kajian pada tiga variabel utama. Pertama, minat belajar sebagai faktor internal yang berasal dari diri siswa. Kedua, lingkungan keluarga yang mencakup pola pengasuhan, perhatian orang tua, serta suasana rumah. Ketiga, lingkungan sekolah yang meliputi kualitas guru, fasilitas pembelajaran, suasana sekolah, dan interaksi sosial di lingkungan pendidikan. Ketiga faktor tersebut kemudian dianalisis untuk melihat pengaruhnya terhadap motivasi belajar PAI siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PAI tergolong baik. Dari 51 responden, sebanyak 47 persen berada pada kategori minat belajar baik, sementara sisanya berada pada kategori cukup dan kurang. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki ketertarikan yang cukup tinggi terhadap pembelajaran PAI, ditandai dengan ketekunan, rasa senang, dan semangat dalam mengikuti kegiatan belajar.
Dari sisi lingkungan keluarga, penelitian menemukan bahwa sebagian besar siswa memperoleh dukungan yang cukup baik dari keluarga. Sebanyak 49 persen responden berada pada kategori lingkungan keluarga baik. Dukungan tersebut tercermin dari komunikasi yang harmonis, perhatian orang tua terhadap pendidikan anak, serta keterlibatan keluarga dalam mendukung aktivitas belajar siswa.
Sementara itu, lingkungan sekolah juga dinilai memberikan kontribusi positif terhadap proses pembelajaran. Mayoritas siswa menilai fasilitas, sarana prasarana, serta kualitas pembelajaran di sekolah berada pada kategori cukup hingga baik. Kondisi ini membantu menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan mendukung peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran PAI.
Temuan paling penting dari penelitian ini adalah adanya pengaruh signifikan antara minat belajar, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah terhadap motivasi belajar PAI siswa. Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,005 atau lebih kecil dari 0,05. Artinya, ketiga faktor tersebut secara bersama-sama terbukti memengaruhi motivasi belajar siswa.
Penelitian ini juga menghasilkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,236. Angka tersebut menunjukkan bahwa minat belajar, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah memberikan kontribusi sebesar 23,6 persen terhadap motivasi belajar siswa. Adapun sisanya, yakni 76,4 persen, dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian, seperti dukungan teman sebaya, pengalaman belajar sebelumnya, maupun kondisi eksternal lainnya yang dapat memengaruhi fokus dan semangat belajar siswa.
Melalui penelitian ini, Hanif Al Huda menegaskan bahwa upaya meningkatkan motivasi belajar tidak dapat dibebankan hanya kepada siswa. Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan belajar yang mendukung menjadi faktor penting dalam membangun semangat belajar yang berkelanjutan. Temuan ini sekaligus menjadi masukan bagi sekolah dan orang tua untuk bersama-sama menciptakan iklim pendidikan yang mampu mendorong siswa lebih aktif, antusias, dan berprestasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

