Belajar Matematika Jadi Lebih Seru dengan Model Team Games Tournament
25 August 2025

mimin

Magelang, 25 Agustus 2025 – Siapa bilang belajar matematika selalu identik dengan wajah murung, penuh hitungan, dan beban berat bagi anak-anak? Aditya Kurniawan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Magelang, justru melihat peluang besar untuk menjadikan matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan. Melalui penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Pembelajaran Team Games Tournament terhadap Hasil Belajar Matematika”, ia membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, anak-anak bisa belajar sambil bermain dan tetap meraih hasil akademik yang gemilang.

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas V SD Muhammadiyah Inovatif Mertoyudan, Magelang, dengan melibatkan 20 siswa sebagai responden. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena umum di dunia pendidikan dasar: matematika masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar siswa. Banyak anak merasa kesulitan memahami materi, kurang berani bertanya, bahkan cenderung pasif saat pembelajaran berlangsung. Model pembelajaran konvensional, yang hanya mengandalkan ceramah guru dan latihan soal, dinilai tidak cukup efektif untuk memantik antusiasme mereka.

Dari sinilah muncul gagasan untuk mencoba model pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT). Model ini menggabungkan unsur kerja sama kelompok, kompetisi sehat, dan permainan edukatif. Dalam TGT, siswa dikelompokkan secara heterogen, kemudian mereka belajar bersama, berdiskusi, dan akhirnya mengikuti semacam turnamen akademik dengan sistem kuis. Unsur permainan inilah yang membuat suasana kelas menjadi lebih cair, dinamis, dan menyenangkan.

Tujuan utama penelitian Aditya adalah untuk menguji apakah penerapan TGT benar-benar berpengaruh pada hasil belajar matematika siswa. Dengan desain penelitian pra-eksperimen tipe One Group Pretest Posttest, ia memberikan tes awal (pretest) sebelum TGT diterapkan, lalu membandingkannya dengan tes akhir (posttest) setelah beberapa kali pembelajaran menggunakan model ini.

Hasilnya sungguh mencengangkan. Rata-rata nilai pretest siswa berada pada angka 64. Setelah mengikuti pembelajaran dengan model TGT, nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 86. Ada selisih 22 poin yang membuktikan adanya peningkatan signifikan. Analisis uji Wilcoxon pun menguatkan hasil tersebut dengan nilai signifikansi 0,00 (≤0,05), yang berarti hipotesis diterima: model TGT terbukti memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa.

Lebih dari sekadar angka, Aditya juga mencatat perubahan perilaku siswa di kelas. Anak-anak yang sebelumnya enggan bertanya, kini tampak lebih berani menyampaikan pendapat. Mereka belajar untuk bekerja sama dalam kelompok, saling membantu memahami materi, sekaligus menikmati suasana kompetisi saat turnamen berlangsung. Kelas yang biasanya terasa kaku berubah menjadi arena belajar yang penuh semangat dan tawa.

Dari penelitian ini, Aditya Kurniawan menyimpulkan bahwa model TGT tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga menumbuhkan minat, motivasi, dan keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran matematika. Ia merekomendasikan agar guru-guru di sekolah dasar mulai berani mencoba pendekatan ini, sebagai alternatif dari metode konvensional yang cenderung membosankan.

“Matematika tidak harus ditakuti. Dengan metode yang tepat, justru bisa menjadi pelajaran yang paling ditunggu-tunggu,” demikian pesan tersirat dari penelitian ini.

Temuan Aditya menjadi angin segar bagi dunia pendidikan dasar, khususnya di tengah tantangan rendahnya minat belajar matematika di kalangan siswa. Jika model seperti TGT diterapkan lebih luas, bukan tidak mungkin wajah pendidikan matematika di Indonesia akan berubah: dari yang awalnya dianggap sulit, menjadi pelajaran yang mengasah logika sekaligus menyenangkan. (ed. Sulistya NG)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance