Magelang,25 Agustus 2025 – Upaya meningkatkan daya saing industri kecil menengah (IKM) terus dilakukan melalui berbagai metode manajemen mutu. Salah satu studi menarik datang dari Ari Gunawan, peneliti Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang menyoroti penerapan metode Six Sigma pada proses produksi di CV Rizky Abadi—perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan tempe.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan cacat produk serta memberikan rekomendasi langkah perbaikan agar perusahaan mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi dan meminimalkan kerugian. Ari Gunawan menjelaskan, kualitas adalah kunci utama dalam mempertahankan konsumen sekaligus memperluas pasar.
Latar Belakang Penelitian
CV Rizky Abadi menghadapi persoalan klasik yang sering muncul pada industri pangan, yaitu tingginya tingkat cacat produk. Kerusakan yang paling sering ditemukan adalah tempe yang hancur, tempe hitam, serta tempe berbintik hitam. Masalah ini bukan hanya berdampak pada biaya produksi, melainkan juga dapat menurunkan citra produk di mata konsumen.
Melihat kondisi tersebut, Ari Gunawan memutuskan untuk menggunakan Six Sigma—sebuah metode perbaikan kualitas yang sudah terbukti efektif di berbagai sektor industri. Six Sigma berfokus pada identifikasi, pengukuran, analisis, perbaikan, dan pengendalian proses produksi agar menghasilkan cacat yang sedekat mungkin dengan nol.
Metode Penelitian
Dalam penelitiannya, Ari menggunakan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control).
-
Define (Pendefinisian): Mengidentifikasi jenis cacat produk yang paling sering terjadi di CV Rizky Abadi.
-
Measure (Pengukuran): Menghitung tingkat kerusakan produk dan mengukur performa proses produksi dengan indikator DPMO (Defects per Million Opportunities).
-
Analyze (Analisis): Menentukan faktor penyebab utama cacat produk melalui diagram sebab-akibat.
-
Improve (Perbaikan): Memberikan usulan perbaikan berbasis data.
-
Control (Pengendalian): Menetapkan langkah pengawasan agar kualitas tetap terjaga.
Hasil Penelitian
Data penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerusakan produk pada CV Rizky Abadi mencapai 4,71%, dengan DPMO sebesar 47.104. Angka ini setara dengan level sigma 3,2, yang berarti kualitas produksi perusahaan masih jauh dari standar ideal enam sigma (hanya 3,4 cacat per sejuta kesempatan).
Jenis cacat terbesar adalah tempe hancur dengan persentase 3,16%, disusul tempe hitam sebesar 0,79%, dan tempe berbintik hitam sebesar 0,76%. Melalui analisis sebab-akibat, faktor utama penyebab cacat berasal dari bahan baku kedelai, proses produksi, serta faktor lingkungan seperti kebersihan dan kelembapan ruang fermentasi.
Rekomendasi Perbaikan
Ari Gunawan merekomendasikan beberapa langkah perbaikan strategis, antara lain:
-
Pemilihan bahan baku ketat – hanya menggunakan kedelai berkualitas baik, bersih, dan tidak bercampur kotoran.
-
Peningkatan kebersihan proses produksi – pekerja diwajibkan menjaga sanitasi, mulai dari peralatan hingga ruang produksi.
-
Kontrol suhu dan kelembapan – memastikan proses fermentasi berjalan optimal agar tempe tidak rusak atau berubah warna.
-
Pelatihan pekerja – meningkatkan pemahaman karyawan tentang pentingnya kualitas dalam setiap tahapan produksi.
Makna dan Implikasi
Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan Six Sigma bukan hanya relevan untuk industri besar, tetapi juga sangat bermanfaat bagi IKM seperti CV Rizky Abadi. Dengan perbaikan yang berkesinambungan, perusahaan tidak hanya dapat menekan jumlah produk cacat, tetapi juga meningkatkan efisiensi produksi serta memperkuat posisi di pasar.
“Jika CV Rizky Abadi mampu menerapkan rekomendasi perbaikan, maka kualitas produknya akan meningkat dan tingkat cacat dapat ditekan hingga mendekati nol,” tulis Ari dalam kesimpulannya.
Studi ini menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan ilmiah dapat membantu usaha kecil menengah untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri makanan yang semakin ketat.(ed.fatikakh)
Sumber : repositori UNIMMA

