Beban Kerja dan Konflik Keluarga-Organisasi: Penelitian Ayudya Windhiasani Ungkap Dinamika Kinerja Pemadam Kebakaran di Magelang
25 August 2025

mimin

Magelang, 25 agustus 2025 – Kinerja para petugas pemadam kebakaran kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelitian akademik mengungkap faktor-faktor yang memengaruhinya. Adalah Ayudya Windhiasani Handarini, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang, yang melalui skripsinya meneliti “Pengaruh Work Overload, Work Family Conflict, dan Iklim Organisasi terhadap Kinerja Karyawan”. Studi ini mengambil objek pada UPT Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Kabupaten Magelang, sebuah unit vital yang bertugas memastikan keselamatan warga dari ancaman kebakaran.

Ayudya berangkat dari kegelisahan melihat tren penurunan response time rate pemadam kebakaran Magelang dalam lima tahun terakhir. Data menunjukkan tingkat kecepatan petugas menjangkau lokasi kejadian menurun dari 79,79% pada 2017 menjadi hanya 54,70% pada 2021. Padahal standar pelayanan minimal ditetapkan pada angka 75%. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: faktor apa yang memengaruhi kinerja petugas, sehingga sering kali target belum tercapai?

Untuk menjawabnya, Ayudya menguji tiga variabel utama. Pertama, work overload atau beban kerja berlebih yang dihadapi petugas. Kedua, work family conflict, yakni benturan antara tanggung jawab pekerjaan dengan kewajiban keluarga. Ketiga, iklim organisasi, yaitu suasana kerja internal yang memengaruhi kenyamanan karyawan.

Penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan melibatkan 58 responden dari total pegawai UPT. Analisis dilakukan dengan uji regresi linier berganda, yang memungkinkan peneliti menilai pengaruh masing-masing variabel baik secara parsial maupun simultan terhadap kinerja.

Hasil penelitian memunculkan temuan yang cukup menarik. Work overload ternyata berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Artinya, meski tugas yang diemban para petugas pemadam kebakaran berat dan penuh tekanan, kondisi itu justru dapat memicu mereka bekerja lebih cepat, sigap, dan profesional. Dalam situasi darurat, beban kerja berlebih tidak menurunkan performa, melainkan memacu mereka menyelesaikan misi penyelamatan dengan optimal.

Sebaliknya, dua variabel lain menunjukkan hasil berbeda. Work family conflict terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja. Dengan kata lain, meski sebagian besar petugas harus membagi peran antara pekerjaan yang menuntut kesiagaan 24 jam dan tanggung jawab rumah tangga, kondisi itu tidak serta-merta menurunkan kinerja mereka di lapangan. Demikian pula iklim organisasi—yang biasanya dianggap faktor penentu kenyamanan bekerja—dalam konteks penelitian ini juga tidak terbukti berpengaruh langsung terhadap kinerja petugas.

Namun, ketika ketiga variabel diuji secara simultan, hasilnya menunjukkan adanya pengaruh bersama terhadap kinerja karyawan. Temuan ini memperlihatkan bahwa beban kerja, konflik keluarga-pekerjaan, serta iklim organisasi tetap saling terkait dan secara keseluruhan dapat menentukan seberapa optimal kinerja petugas pemadam kebakaran.

Dalam pembahasannya, Ayudya menegaskan bahwa hasil positif dari beban kerja tidak bisa dilepaskan dari karakteristik pekerjaan pemadam kebakaran yang memang penuh risiko. Situasi darurat menuntut kesiapan fisik dan mental tinggi, sehingga tekanan kerja justru mendorong semangat profesionalisme. Meski begitu, ia mengingatkan perlunya perhatian serius terhadap faktor psikologis petugas, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga, agar keseimbangan hidup tetap terjaga.

Lebih jauh, penelitian ini memberi kontribusi praktis bagi Pemerintah Kabupaten Magelang. Hasil kajian dapat dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan pengelolaan kinerja pegawai, khususnya dalam hal manajemen beban kerja, penjadwalan, serta pembinaan kesejahteraan mental karyawan. Dengan demikian, target response time yang sesuai standar pelayanan minimal bisa kembali dicapai, bahkan ditingkatkan.

Penelitian Ayudya juga menambah referensi akademik mengenai manajemen sumber daya manusia, khususnya pada sektor pelayanan publik yang memiliki karakteristik unik seperti pemadam kebakaran. Di tengah keterbatasan jumlah personel dan tingginya tuntutan tugas, hasil studi ini menegaskan bahwa manajemen beban kerja merupakan kunci utama dalam menjaga performa organisasi.

Pada akhirnya, penelitian ini tidak hanya menjadi syarat kelulusan akademik, tetapi juga bentuk nyata kontribusi ilmiah untuk mendukung peningkatan layanan publik. Seperti disampaikan Ayudya, “Kinerja tinggi pemadam kebakaran bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi menyangkut keselamatan jiwa dan harta masyarakat. Karena itu, pemahaman atas faktor-faktor yang memengaruhinya sangat penting untuk perbaikan berkelanjutan.”

Dengan riset ini, diharapkan UPT Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Kabupaten Magelang dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus menjadi contoh bagi instansi sejenis di daerah lain.(ed.fatikakh)

Sumber : repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance