Magelang, 25 Agustus 2025 – Penelitian yang dilakukan oleh Harnowo, seorang peneliti pendidikan, memberikan gambaran komprehensif tentang pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja (P5BK) di sekolah menengah kejuruan (SMK) pelaksana program pusat keunggulan (SMK-PK) di Kabupaten Wonosobo.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menelaah bagaimana implementasi P5BK berjalan di lapangan, khususnya di dua sekolah yang menjadi sampel: SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo dan SMK Negeri 1 Wadaslintang. Fokus penelitian diarahkan pada tiga aspek: pelaksanaan projek, hasil yang dicapai, serta kendala yang muncul selama proses berlangsung.
Latar Belakang dan Tujuan Penelitian
Program P5BK merupakan kebijakan pemerintah yang dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam diri siswa sekaligus membangun budaya kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Harnowo menekankan, penting bagi sekolah kejuruan untuk tidak hanya menyiapkan keterampilan teknis, tetapi juga karakter dan etos kerja.
Penelitian ini bertujuan menganalisis sejauh mana tujuan tersebut tercapai, dengan harapan dapat memberikan masukan bagi sekolah maupun pemangku kebijakan pendidikan dalam memperbaiki strategi pelaksanaan di masa mendatang.
Metodologi dan Pendekatan
Menggunakan metode deskriptif kualitatif, Harnowo melakukan observasi, wawancara, serta dokumentasi terhadap kegiatan projek di kedua sekolah. Data dikumpulkan dari guru, kepala sekolah, hingga siswa yang terlibat dalam projek P5BK.
Dengan pendekatan ini, peneliti tidak hanya mengungkap apa yang terjadi di permukaan, tetapi juga dinamika yang dialami sekolah dalam mengimplementasikan kebijakan baru tersebut.
Hasil Penelitian: Pencapaian dan Dampak
Secara umum, penelitian menemukan bahwa implementasi P5BK sudah berjalan dengan baik di kedua sekolah. Siswa mendapatkan pengalaman belajar berbasis projek yang mendorong kerja sama, kreativitas, serta keterampilan komunikasi.
Di SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo, projek yang diusung lebih menekankan pada pembentukan karakter religius, gotong royong, dan kemandirian. Sementara di SMK Negeri 1 Wadaslintang, projek diarahkan pada penguatan budaya kerja, kepedulian lingkungan, serta pemanfaatan potensi lokal.
Harnowo mencatat bahwa hasil dari projek ini tidak hanya meningkatkan keterampilan nonteknis siswa, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kepedulian sosial. Beberapa siswa bahkan mampu menghasilkan produk sederhana yang bernilai ekonomi.
Kendala dalam Implementasi
Meski capaian positif terlihat jelas, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah kendala. Di antaranya:
-
Keterbatasan waktu karena padatnya kurikulum reguler.
-
Keterbatasan dana, yang menyebabkan sekolah harus berinovasi dengan sumber daya minimal.
-
Kurangnya pemahaman awal guru mengenai konsep P5BK, sehingga pada tahap awal implementasi diperlukan pendampingan intensif.
Namun, kendala-kendala tersebut mampu diatasi dengan semangat kolaborasi guru dan dukungan manajemen sekolah.
Evaluasi dan Rekomendasi
Harnowo menyimpulkan bahwa implementasi P5BK di Wonosobo tergolong berhasil, meskipun masih memerlukan perbaikan. Ia merekomendasikan agar:
-
Pemerintah memberikan dukungan lebih besar, baik dari segi pendanaan maupun pelatihan guru.
-
Sekolah perlu memperkuat kolaborasi dengan dunia industri agar budaya kerja yang ditanamkan lebih relevan dengan kebutuhan nyata.
-
Perlu penguatan monitoring dan evaluasi agar projek tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar berkontribusi pada pembentukan profil pelajar Pancasila.
Menatap ke Depan
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa P5BK bukan sekadar program tambahan, melainkan jantung dari pendidikan karakter di SMK. Melalui projek ini, siswa tidak hanya dibekali keterampilan kerja, tetapi juga nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi pembangunan bangsa.
“P5BK memberi ruang bagi siswa untuk belajar menjadi manusia Indonesia seutuhnya—cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja,” ujar Harnowo dalam simpulan penelitiannya.
Dengan berbagai capaian dan tantangan yang telah dipetakan, penelitian ini diharapkan menjadi referensi penting bagi sekolah-sekolah lain yang sedang atau akan mengimplementasikan P5BK. Kabupaten Wonosobo, melalui langkah dua SMK pelaksana program pusat keunggulan ini, telah memberikan contoh nyata bagaimana kebijakan nasional dapat dijalankan di tingkat lokal dengan hasil yang menjanjikan.(ed.fatikakh)
Sumber : repositori UNIMMA

