Manifestasi COVID-19 pada Ibu Hamil dan Dampaknya bagi Bayi Baru Lahir
1 September 2025

jww

Magelang, 01 September 2025 – Pandemi COVID-19 tak hanya mengubah tatanan sosial, ekonomi, dan kesehatan, tetapi juga menimbulkan tantangan serius bagi kelompok rentan, termasuk ibu hamil. Perubahan fisiologis dan sistem imun dalam tubuh menjadikan perempuan hamil lebih mudah terpapar penyakit infeksi, termasuk virus SARS-CoV-2. Kekhawatiran ini mendorong Ana Oftifyani, mahasiswi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, meneliti secara khusus bagaimana manifestasi klinis COVID-19 pada ibu hamil serta komplikasi yang muncul pada bayi baru lahir di RSUD Tidar Kota Magelang.

Latar Belakang

Sejak kasus pertama diumumkan WHO pada Januari 2020, COVID-19 dengan cepat menjalar ke seluruh dunia. Di Indonesia, angka kasus melonjak drastis, termasuk di Jawa Tengah. Data RSUD Tidar, rumah sakit rujukan lini pertama di Magelang, mencatat sejak Mei 2020 hingga Agustus 2021 terdapat 151 pasien ibu hamil terkonfirmasi positif COVID-19. Dari jumlah itu, 3,3 persen meninggal dunia, meski tidak ditemukan data kematian langsung pada bayi baru lahir.

Ibu hamil disebut lebih rentan karena perubahan mekanisme imun tubuh yang bergeser dari dominasi sel Th1 ke Th2, memicu peningkatan sitokin antiinflamasi. Kondisi ini memang melindungi janin, namun di sisi lain membuat tubuh ibu lebih mudah diserang infeksi virus. Selain itu, perubahan mekanis pada sistem pernapasan, seperti peningkatan posisi diafragma, dapat mengurangi kapasitas paru sehingga risiko gagal napas lebih besar.

Tujuan dan Metodologi

Penelitian Ana yang berjudul Manifestasi Klinik Ibu Hamil Yang Terinfeksi COVID-19 Dan Komplikasi Pada Bayi Baru Lahir Di RSUD Tidar Kota Magelang bertujuan mengidentifikasi gambaran klinis ibu hamil yang terinfeksi COVID-19 dan komplikasi yang timbul pada bayi. Studi ini bersifat deskriptif-analitik dengan teknik total sampling. Data diambil dari rekam medis 151 ibu hamil dan 93 bayi yang lahir dari ibu dengan COVID-19. Variabel yang diteliti meliputi gejala klinis, hasil laboratorium, serta kondisi bayi saat lahir.

Hasil Penelitian

Hasil menunjukkan gejala yang muncul pada ibu hamil tidak jauh berbeda dengan pasien COVID-19 pada umumnya. Manifestasi klinis yang dominan adalah malaise (rasa lemah dan tidak bertenaga) serta limfopenia (penurunan jumlah sel limfosit dalam darah). Gejala lain yang banyak ditemukan antara lain demam, sesak napas, batuk, mialgia, nyeri tenggorokan, diare, pneumonia, hingga hipoksia. Sebagian kecil kasus berujung pada gagal napas dan kematian.

Pada bayi, rata-rata gejala yang ditunjukkan bersifat ringan. Bayi baru lahir umumnya memiliki skor Apgar baik dan kondisi stabil. Namun, sebagian kecil mengalami masalah serius seperti sesak napas, gagal napas, lahir prematur, atau berat badan lahir rendah (BBLR). Dari hasil uji PCR, beberapa bayi juga dinyatakan positif COVID-19, meski bukti transmisi vertikal (penularan langsung dari ibu ke janin) masih jarang ditemukan.

Pembahasan

Penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya bahwa ibu hamil memang menghadapi risiko lebih tinggi saat terinfeksi COVID-19. Komplikasi pada janin bisa berupa gawat janin, ketuban pecah dini, hingga persalinan prematur. Meski demikian, sebagian besar bayi tetap lahir dengan kondisi baik, menunjukkan bahwa transmisi virus secara langsung dari ibu ke janin bukanlah hal yang umum.

Ana menegaskan pentingnya perhatian ekstra terhadap kelompok ibu hamil di masa pandemi. Pemeriksaan antenatal care (ANC) harus dilakukan dengan protokol ketat, sementara tenaga kesehatan perlu memantau tanda-tanda klinis seperti demam, hipoksia, atau pneumonia yang dapat membahayakan ibu dan janin. Edukasi kepada keluarga juga menjadi kunci dalam mencegah penularan lebih lanjut.

Kesimpulan

Dari penelitian ini, Ana Oftifyani menyimpulkan bahwa manifestasi klinis terbanyak pada ibu hamil yang terinfeksi COVID-19 adalah malaise dan limfopenia, sedangkan pada bayi baru lahir sebagian besar hanya menunjukkan gejala ringan. Namun, beberapa bayi mengalami komplikasi berat, seperti sesak napas dan gagal napas. Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi rumah sakit untuk meningkatkan protokol penanganan persalinan pada pasien COVID-19, serta menjadi rujukan bagi penelitian lanjutan mengenai kesehatan maternal dan neonatal di masa pandemi. (ed. Wied)

Sumber: Repositori UNIMMA