Motivasi, Komitmen, dan Fasilitas: Resep Tingkatkan Kinerja Guru di Era New Normal
1 September 2025

Istiarni Atin

Magelang, 01 September 2025 – Pandemi COVID-19 telah mengubah wajah pendidikan Indonesia. Proses belajar mengajar yang biasanya berlangsung tatap muka terpaksa beralih ke sistem daring. Perubahan ini menuntut guru bekerja ekstra dalam situasi serba terbatas. Menariknya, di tengah kondisi itu, kinerja guru di SMK Negeri 1 Sambirejo, Kabupaten Sragen, justru menunjukkan tren peningkatan. Fenomena inilah yang mendorong Muhammad Alfian Rakhmawanto, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang, meneliti lebih jauh faktor-faktor yang memengaruhi kinerja guru di era new normal.

Latar Belakang

Data Penilaian Kinerja Guru (PKG) di SMKN 1 Sambirejo periode 2019–2021 menunjukkan hasil konsisten baik, bahkan cenderung meningkat di masa pandemi. Hal ini berbanding terbalik dengan banyak sekolah lain yang justru menghadapi penurunan kinerja akibat pembelajaran daring. Dari sini, Alfian berasumsi bahwa ada faktor pendukung yang menjaga kualitas kinerja guru, antara lain motivasi, komitmen organisasi, dan fasilitas kerja.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh motivasi, komitmen organisasi, dan fasilitas kerja terhadap kinerja guru di era new normal. Fokusnya bukan hanya melihat pengaruh secara parsial, tetapi juga menilai bagaimana ketiga variabel tersebut bekerja bersama-sama dalam menentukan kualitas kinerja.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan regresi linier berganda. Sampel penelitian adalah seluruh guru di SMKN 1 Sambirejo, yaitu 76 responden, dengan teknik sampel jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang berisi 14 pernyataan terkait motivasi, komitmen organisasi, fasilitas kerja, dan kinerja. Analisis dilakukan menggunakan program SPSS versi 25.0.

Hasil Penelitian

Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga faktor utama tersebut berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru.

  • Motivasi terbukti menjadi pendorong kuat. Guru yang memiliki dorongan batin untuk terus berkembang menunjukkan kinerja lebih baik. Nilai koefisien regresi motivasi tercatat 0,443, dengan arah positif dan signifikan.

  • Komitmen organisasi juga berperan penting. Guru yang merasa bangga dan loyal terhadap sekolah cenderung bekerja lebih sungguh-sungguh. Nilai koefisiennya 0,286, menunjukkan pengaruh positif signifikan.

  • Fasilitas kerja tidak kalah penting. Dukungan berupa sarana pembelajaran daring, perangkat teknologi, hingga infrastruktur sekolah menjadi faktor yang meningkatkan efektivitas guru. Nilai koefisien fasilitas kerja mencapai 0,350, juga positif dan signifikan.

Secara simultan, ketiga faktor ini mampu menjelaskan 54,3% variasi kinerja guru. Artinya, lebih dari separuh capaian kinerja guru ditentukan oleh motivasi, komitmen, dan fasilitas yang mereka miliki. Sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian, seperti kepemimpinan kepala sekolah atau kondisi psikologis guru.

Pembahasan

Temuan ini menegaskan bahwa kinerja guru di era new normal bukan semata ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau sistem pembelajaran daring, melainkan juga oleh aspek internal dan eksternal guru. Motivasi pribadi menjadi energi utama, komitmen organisasi memperkuat rasa memiliki, dan fasilitas kerja memastikan guru dapat mengajar secara optimal meski dalam keterbatasan.

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa dukungan sekolah berupa sarana teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mutlak. Guru yang difasilitasi laptop, jaringan internet stabil, dan ruang kerja yang memadai akan lebih mudah beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring.

Kesimpulan

Skripsi karya Muhammad Alfian Rakhmawanto menyimpulkan bahwa motivasi, komitmen organisasi, dan fasilitas kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru di SMKN 1 Sambirejo Kabupaten Sragen pada era new normal.

Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini memberi pesan penting: untuk menjaga kualitas pembelajaran di masa krisis, sekolah harus mampu memelihara motivasi guru, menumbuhkan komitmen, sekaligus menyediakan fasilitas yang memadai. Dengan begitu, mutu pendidikan tetap terjaga meski dalam situasi penuh tantangan. (ed-AIS)

Sumber: repository UNIMMA