Magelang, 03 September 2025 – Moderasi beragama menjadi isu penting di tengah meningkatnya potensi konflik identitas dan intoleransi. Hal ini pula yang menggerakkan Ipung Rahmawan Pramudya, mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, untuk mengkaji film dokumenter “Jejak Langkah Dua Ulama” melalui penelitian berjudul “Nilai Pendidikan Moderasi Beragama dalam Film Jejak Langkah Dua Ulama.”
Film besutan Sigit Ariansyah ini mengangkat kisah dua ulama besar Nusantara, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Keduanya dikenal sebagai pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Meski berbeda pandangan dalam beberapa hal, keduanya dipersatukan oleh semangat kebangsaan, dakwah Islam yang damai, dan cita-cita membangun masyarakat berilmu.
Menurut Ipung, film ini tidak hanya merekam sejarah, tetapi juga memuat pesan-pesan pendidikan yang relevan dengan kehidupan berbangsa hari ini. Tujuan penelitiannya adalah untuk menemukan nilai pendidikan moderasi beragama yang terkandung dalam film dan bagaimana nilai itu dapat menjadi pedoman pembentukan generasi Muslim moderat di masa depan.
Metode yang digunakan Ipung adalah pendekatan kualitatif dengan teknik analisis isi. Ia mengamati dialog, adegan, hingga simbol dalam film, lalu mengaitkannya dengan konsep moderasi beragama sebagaimana digariskan Kementerian Agama. Hasil penelitiannya menemukan empat nilai pokok yang menjadi inti moderasi beragama.
Pertama, komitmen kebangsaan. Film memperlihatkan betapa kedua tokoh ulama tidak hanya berjuang di ranah dakwah, tetapi juga menyalakan semangat nasionalisme. KH Ahmad Dahlan mendidik kader muda melalui Hizbul Wathan, sementara KH Hasyim Asy’ari dengan lantang mengeluarkan fatwa jihad melawan penjajahan. Keduanya menegaskan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Kedua, toleransi. Meski berasal dari organisasi berbeda, keduanya digambarkan saling menghormati dan menjaga persaudaraan. Dalam film terlihat bagaimana KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan tetap bisa duduk bersama, berdiskusi, bahkan bersahabat erat tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan perpecahan. Pesan ini menjadi teladan bahwa umat Islam harus mampu menghargai keragaman pemikiran.
Ketiga, anti kekerasan. Dalam beberapa adegan, film menampilkan sikap KH Ahmad Dahlan yang tetap tenang meski menghadapi ejekan dan perlawanan. Ia tidak membalas caci maki dengan amarah, melainkan dengan dakwah penuh hikmah. Begitu pula KH Hasyim Asy’ari yang mengajarkan umat untuk menempuh jalan damai dalam menyelesaikan konflik. Nilai ini menegaskan bahwa Islam menolak kekerasan sebagai jalan dakwah.
Keempat, akomodatif terhadap budaya lokal. Film menampilkan bagaimana kedua ulama tidak menolak tradisi masyarakat selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka justru merangkul budaya lokal sebagai sarana dakwah yang lebih dekat dengan masyarakat. Dari sinilah lahir Islam Nusantara yang ramah dan membumi.
Ipung menegaskan, nilai-nilai tersebut bila ditanamkan dalam pendidikan akan menjadi corong utama terbentuknya umat wasathiyah—umat yang moderat, tidak ekstrem kiri maupun kanan, tetapi berjalan di jalan tengah. Film, sebagai media populer, terbukti mampu menyampaikan pesan moderasi dengan cara yang lebih mengena, terutama bagi generasi muda.
Penelitian ini akhirnya menyimpulkan bahwa “Jejak Langkah Dua Ulama” bukan sekadar film sejarah, melainkan media pendidikan yang sarat pesan moral. Dengan menghidupkan kembali kisah KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari, film ini menawarkan jalan tengah: bagaimana perbedaan dapat disikapi dengan toleransi, persatuan, dan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal.
Bagi Ipung Rahmawan Pramudya, penelitian ini bukan hanya karya akademik, tetapi juga seruan agar generasi Muslim hari ini belajar dari jejak dua ulama besar bangsa. Sebuah pengingat bahwa moderasi beragama adalah kunci menjaga harmoni Indonesia sebagai rumah bersama.(ed : fatikakh)
Sumber : repositori UNIMMA

