Magelang, 23 September 2025 – Hobi aquascape, atau seni menata tanaman air di akuarium, semakin populer di kalangan pecinta ikan hias. Namun, di balik keindahannya, terdapat tantangan besar: menjaga kestabilan kualitas air, khususnya kadar pH, agar tanaman dan ikan tetap sehat. Selama ini, para penghobi harus memeriksa pH secara manual dengan alat ukur dan menambahkan larutan asam atau basa bila terjadi ketidakseimbangan. Cara tradisional ini cukup merepotkan, apalagi bagi pemilik akuarium yang sibuk atau sering bepergian.
Kondisi inilah yang menginspirasi Yulio David Hendrawan, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Magelang, untuk merancang sistem otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mengatur pH air sekaligus pencahayaan akuarium. Penelitiannya dituangkan dalam skripsi berjudul “Otomatisasi Pengaliran Larutan Asam dan Basa Tanaman Air Aquascape Berdasarkan Kandungan pH Berbasis IoT”.
Tema Penelitian
Penelitian ini berangkat dari permasalahan perawatan akuarium yang masih manual. Menurut Yulio, pemilik aquascape kerap kesulitan mengontrol pH air dan pencahayaan karena harus dilakukan berkala dan memakan banyak waktu . Tanaman aquascape, seperti lilaeopsis brasiliensis, sangat sensitif terhadap kualitas air dengan kebutuhan pH stabil di rentang 6,5–7,5. Jika pH terlalu asam atau basa, tanaman bisa membusuk dan ikan berisiko mati. Oleh karena itu, penelitian ini bertema otomatisasi sistem perawatan aquascape dengan teknologi sensor, mikrokontroler, dan aplikasi mobile.
Tujuan Penelitian
Dalam penelitiannya, Yulio David Hendrawan menetapkan tujuan utama, yakni:
- Merancang model dan sistem otomatisasi pengaliran larutan asam dan basa untuk menjaga kestabilan pH akuarium.
- Menguji akurasi sistem yang dibangun dengan membandingkannya terhadap alat ukur pH manual konvensional .
Dengan tujuan ini, penelitian diharapkan mampu menghadirkan solusi praktis yang memudahkan pemilik aquascape, sekaligus mendukung perawatan tanaman air agar lebih efisien.
Metodologi
Sistem yang dikembangkan Yulio memanfaatkan ESP32 sebagai mikrokontroler, sensor pH E-4502C untuk mendeteksi keasaman air, serta pompa celup yang mengalirkan larutan asam atau basa sesuai kebutuhan . Selain itu, lampu LED digunakan sebagai sumber cahaya buatan untuk membantu fotosintesis tanaman. Semua perangkat terhubung dengan aplikasi Android melalui database Firebase, sehingga pengguna bisa memantau kondisi pH dan menyalakan atau mematikan lampu dari jarak jauh.
Hasil Penelitian
Pengujian sistem menunjukkan hasil yang menggembirakan.
-
Sensor pH E-4502C berhasil mendeteksi kondisi air dengan tingkat kesalahan relatif kecil, yakni 4% untuk air asam dan 2% untuk air netral.
-
Perbandingan antara pengecekan manual dan otomatis hanya menunjukkan selisih rata-rata 2,32%, sehingga sistem otomatis dianggap cukup akurat .
-
Pada pengujian pompa, sistem terbukti mampu mengalirkan larutan asam dan basa secara tepat ketika pH air berada di luar batas normal (6,5–7,5). Tingkat keberhasilan pengoperasian pompa mencapai 100%.
-
Pengendalian LED untuk pencahayaan akuarium juga berhasil diuji dengan tingkat respons rata-rata 3–4 detik dari aplikasi ke perangkat.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem otomatisasi berbasis IoT dapat menjaga pH air dan pencahayaan akuarium dengan efektif dan efisien. Selain menghemat waktu dan tenaga, sistem ini juga meningkatkan kualitas hidup tanaman air serta mengurangi risiko kematian ikan akibat perubahan pH ekstrem.
Kesimpulan
Dalam simpulannya, Yulio David Hendrawan menegaskan bahwa penggunaan teknologi IoT pada perawatan aquascape terbukti lebih praktis, akurat, dan optimal hingga 100% dibandingkan metode manual . Dengan sistem ini, pemilik aquascape tidak perlu lagi repot memantau pH secara berkala, karena perangkat akan bekerja otomatis sesuai pengaturan dan kebutuhan tanaman air.
Selain itu, penelitian ini membuka peluang besar bagi pengembangan sistem serupa pada bidang lain, seperti perawatan kolam ikan hias, budidaya hidroponik, maupun sistem pertanian modern yang membutuhkan pengendalian pH dan pencahayaan secara konsisten.
“Sistem ini diharapkan bisa membantu penghobi aquascape agar lebih mudah merawat tanaman dan ikan, sekaligus mendukung tren smart farming dan smart aquarium berbasis teknologi IoT,” ungkap Yulio dalam laporan akhirnya. (ed: Adella)
sumber: repository UNIMMA

