Magelang, 24 September 2025 – Ulkus diabetik, komplikasi serius dari diabetes melitus, tidak hanya menimbulkan masalah fisik berupa luka sulit sembuh, tetapi juga memicu kecemasan mendalam pada penderitanya. Rasa takut akan amputasi, biaya pengobatan yang tinggi, hingga kualitas hidup yang menurun membuat pasien kerap diliputi stres. Fenomena ini mendorong Triyana Ermawati, mahasiswa D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, untuk meneliti bagaimana relaksasi terbimbing dapat membantu mengurangi kecemasan pasien ulkus diabetik.
Penelitian yang dituangkan dalam karya ilmiah berjudul “Penerapan Relaksasi Terbimbing terhadap Tingkat Anxiety pada Pasien Ulkus Diabetik” ini menyoroti pentingnya intervensi nonfarmakologis dalam mendukung perawatan medis.
Tema Penelitian
Tema penelitian ini adalah efektivitas teknik relaksasi terbimbing dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien ulkus diabetik. Menurut Triyana, meskipun terapi medis sudah dilakukan, aspek psikologis pasien seringkali terabaikan. Padahal, kecemasan dapat memperburuk kondisi penyakit karena berpengaruh pada metabolisme tubuh dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Relaksasi terbimbing dipandang sebagai cara sederhana, murah, dan mudah diterapkan oleh pasien maupun tenaga kesehatan.
Tujuan Penelitian
Dalam penelitiannya, Triyana Ermawati memiliki tujuan utama:
- Menggambarkan proses penerapan relaksasi terbimbing pada pasien ulkus diabetik yang mengalami kecemasan.
- Menganalisis perubahan tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah intervensi.
- Mengevaluasi efektivitas relaksasi terbimbing sebagai salah satu intervensi keperawatan untuk pasien ulkus diabetik.
Metodologi
Penelitian ini berbentuk studi kasus deskriptif. Subjeknya adalah dua pasien ulkus diabetikum perempuan berusia 55 dan 62 tahun yang mengalami kecemasan tingkat sedang. Pengukuran dilakukan dengan instrumen SRQ-20 (Self Reporting Questionnaire) dan DASS-42 (Depression Anxiety Stress Scale).
Intervensi relaksasi terbimbing diberikan selama empat kali sesi dalam satu minggu, masing-masing berdurasi 10–15 menit. Dalam setiap sesi, pasien dibimbing untuk duduk rileks, memejamkan mata, mengatur pernapasan, dan membayangkan suasana menenangkan seperti pantai atau pegunungan. Media leaflet dan video juga digunakan untuk memperkuat efek terapi.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik relaksasi terbimbing berhasil menurunkan tingkat kecemasan kedua pasien.
-
Pasien pertama (62 tahun): Sebelum intervensi, tingkat kecemasan berada pada kategori sedang (14 poin). Setelah empat kali sesi, skor turun menjadi 12, menunjukkan penurunan meski masih dalam kategori sedang. Pasien merasa lebih tenang, lebih fokus, dan mulai mengalami perbaikan pola tidur.
-
Pasien kedua (55 tahun): Awalnya memiliki skor kecemasan 12 (sedang), kemudian menurun menjadi 9 (ringan). Pasien melaporkan lebih rileks, tidur lebih nyenyak, serta merasa lebih menerima kondisi penyakitnya.
Selain penurunan skor, data subjektif dari wawancara juga memperlihatkan pasien merasa lebih damai dan optimis. Data objektif menunjukkan pasien tampak kooperatif, tidak lagi mudah gelisah, dan lebih tenang menjalani perawatan.
Kesimpulan
Dalam simpulannya, Triyana Ermawati menegaskan bahwa relaksasi terbimbing efektif membantu menurunkan kecemasan pada pasien ulkus diabetik. Terapi sederhana ini memberi dampak positif baik secara psikologis maupun fisik. Pasien menjadi lebih tenang, tidur lebih teratur, serta lebih siap menjalani pengobatan medis.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa intervensi nonfarmakologis memiliki peran penting dalam perawatan pasien kronis. Relaksasi terbimbing dapat dijadikan salah satu opsi intervensi keperawatan yang murah, praktis, dan bisa dipraktikkan secara mandiri oleh pasien setelah mendapat arahan tenaga kesehatan.
“Relaksasi terbimbing memberi ketenangan sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien. Teknik ini seharusnya menjadi bagian penting dari pelayanan keperawatan bagi penderita ulkus diabetik,” tegas Triyana dalam laporannya.
Dengan temuan ini, penelitian Triyana memberi kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu keperawatan, khususnya terkait peran intervensi psikologis sederhana dalam mendukung penyembuhan pasien dengan penyakit kronis. (ed: Adella)
sumber: repository UNIMMA

