Magelang, 19 November 2025 – Dismenore atau nyeri menstruasi masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling banyak dialami remaja putri di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas belajar, menurunkan konsentrasi, dan bahkan menyebabkan ketidakhadiran di sekolah. Berangkat dari masalah tersebut, Niva Widiastuti melakukan sebuah penelitian menarik dilakukan untuk menggali efektivitas terapi nonfarmakologi berupa kombinasi akupresur titik Sanyinjiao (SP6) dan minuman rebusan jahe merah pada remaja putri yang mengalami dismenore.
Penelitian yang dilakukan di Desa Congkrang, Muntilan, Magelang ini bertujuan memberikan gambaran nyata mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan menggunakan teknik alternatif yang mudah, aman, dan dapat dilakukan secara mandiri. Fokus utama penelitian adalah untuk menurunkan intensitas nyeri menstruasi melalui pendekatan komplementer yang memadukan stimulasi titik akupresur spesifik dan konsumsi herbal berkhasiat.
Dari sisi teori, kedua metode ini telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional. Titik akupresur Sanyinjiao (SP6), yang terletak sekitar empat jari di atas mata kaki bagian dalam, merupakan titik penting yang berkaitan dengan organ reproduksi wanita. Pemijatan di titik ini dipercaya mampu merangsang aliran energi atau meridian, memperlancar sirkulasi darah, dan mengurangi kontraksi berlebih pada uterus. Sementara itu, jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) telah terbukti mengandung minyak atsiri, gingerol, dan oleoresin yang berperan sebagai analgesik dan antiinflamasi alami. Kombinasi keduanya secara teoritis diyakini mampu memberikan efek pengurangan nyeri yang lebih optimal.
Penelitian ini melibatkan seorang remaja putri berusia 17 tahun yang mengalami dismenore dengan tingkat nyeri cukup berat, yaitu skala 7 berdasarkan Numeric Rating Scale (NRS). Selama tiga hari masa penelitian, subjek diberikan minuman rebusan jahe merah dua kali sehari—pagi dan sore—dan dilakukan pemijatan akupresur Sanyinjiao selama 3–5 menit setiap sesi. Pemantauan dilakukan melalui wawancara, observasi, serta pemeriksaan tanda vital.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup meyakinkan. Pada hari pertama, setelah pemberian terapi, intensitas nyeri turun dari skala 7 menjadi 6. Penurunan kembali terjadi pada hari kedua, dari skala 6 menjadi 5 pada pagi hari dan turun lagi menjadi skala 4 pada sore hari. Memasuki hari ketiga, nyeri terus berkurang signifikan hingga berada pada skala 3, dan akhirnya mencapai skala 2 pada sore hari. Subjek melaporkan merasa lebih nyaman, rileks, dan mampu melanjutkan aktivitas harian tanpa gangguan berarti.
Yang menarik, perubahan intensitas nyeri bukan hanya terlihat dari skala penilaian, tetapi juga dari pengamatan terhadap perilaku dan kondisi fisik. Responden tampak lebih tenang, tidak lagi meringis, dan dapat beristirahat lebih baik dibandingkan hari pertama. Selain itu, tidak ditemukan efek samping negatif—menunjukkan bahwa metode ini aman diterapkan.
Penelitian ini menegaskan bahwa terapi kombinasi akupresur Sanyinjiao dan rebusan jahe merah dapat menjadi alternatif nonfarmakologi yang efektif dan praktis bagi remaja putri yang mengalami dismenore. Selain bahan dan metodenya mudah ditemukan, terapi ini juga relatif aman untuk digunakan secara mandiri di rumah.
Meskipun penelitian ini hanya melibatkan satu subjek, hasilnya memberikan indikasi kuat bahwa pendekatan tradisional dapat dipadukan dengan ilmu keperawatan modern untuk menghadirkan solusi kesehatan yang sederhana namun bermanfaat. Ke depan, metode ini berpotensi dikembangkan dalam skala penelitian yang lebih luas atau program edukasi kesehatan reproduksi di sekolah maupun fasilitas kesehatan.
Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap terapi komplementer, penelitian ini menjadi salah satu bukti bahwa solusi alami dapat memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan remaja putri—khususnya dalam menghadapi masalah nyeri menstruasi yang kerap dianggap sepele namun berdampak besar pada kualitas hidup. (ed. sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

