Magelang, Juni 2026 — Pembentukan karakter religius peserta didik tidak hanya bergantung pada materi pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga dipengaruhi oleh pembiasaan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Berangkat dari pemikiran tersebut, Harwati, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, melakukan penelitian mengenai “Peran Guru Kelas dalam Pembinaan Kedisiplinan Beribadah pada Siswa MI Ulumuddin Ngargosoko Kaliangkrik.”
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kedisiplinan beribadah sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa. Dalam praktiknya, masih ditemukan sejumlah tantangan seperti kurangnya kesadaran sebagian siswa untuk melaksanakan ibadah secara mandiri, rendahnya konsistensi ketika tidak berada dalam pengawasan guru, hingga pengaruh lingkungan dan perkembangan teknologi yang dapat mengurangi fokus siswa terhadap kegiatan keagamaan.
Melalui penelitian dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, Harwati berupaya menggali lebih dalam bagaimana peran guru kelas dalam membina kedisiplinan ibadah siswa, faktor-faktor yang mendukung keberhasilan pembinaan tersebut, serta berbagai kendala yang dihadapi selama proses pelaksanaannya. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala sekolah, guru kelas, serta siswa MI Ulumuddin Ngargosoko Kaliangkrik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru kelas memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun budaya disiplin beribadah di sekolah. Peran tersebut dijalankan melalui penerapan empat fungsi utama manajemen pendidikan, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap seluruh kegiatan pembinaan ibadah siswa.
Pada tahap perencanaan, guru menyusun berbagai program keagamaan yang menjadi rutinitas siswa di sekolah. Kegiatan tersebut meliputi pelaksanaan salat berjamaah, pembacaan doa-doa harian, hafalan hadis pilihan, pembacaan Asmaul Husna, serta hafalan surat-surat pendek Al-Qur’an. Program tersebut dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai upaya membangun kebiasaan religius yang melekat dalam diri peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, guru kelas tidak hanya bertindak sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan bagi siswa. Sikap konsisten guru dalam menjalankan kegiatan ibadah, memberikan arahan, mengingatkan, serta membimbing siswa menjadi faktor penting dalam proses pembentukan karakter religius. Pendekatan pembiasaan secara terus-menerus dinilai mampu membantu siswa memahami pentingnya menjalankan ibadah dengan tertib dan penuh tanggung jawab.
Penelitian ini juga menemukan bahwa keberhasilan pembinaan kedisiplinan beribadah di MI Ulumuddin Ngargosoko didukung oleh terciptanya budaya religius di lingkungan sekolah. Dukungan kepala sekolah, kerja sama antarguru, serta keberadaan program keagamaan yang dilakukan secara rutin menjadi elemen penting dalam menjaga keberlangsungan pembinaan tersebut.
Meski demikian, proses pembinaan tidak terlepas dari berbagai hambatan. Sebagian siswa masih menunjukkan sikap kurang disiplin, seperti belum fokus saat kegiatan ibadah berlangsung dan masih membutuhkan pengawasan dari guru. Selain itu, latar belakang keluarga yang berbeda-beda menyebabkan tingkat pembiasaan ibadah siswa di rumah tidak sama. Penggunaan teknologi yang kurang terkontrol juga menjadi tantangan baru yang dapat memengaruhi perhatian dan kedisiplinan anak terhadap aktivitas keagamaan.
Berdasarkan temuan penelitian tersebut, Harwati menyimpulkan bahwa guru kelas memiliki kontribusi besar dalam membentuk kedisiplinan beribadah siswa melalui pembinaan yang terencana, terarah, dan dilakukan secara berkelanjutan. Keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh peran individu guru, tetapi juga memerlukan dukungan budaya sekolah yang religius serta sinergi antara pihak sekolah dan keluarga.
Penelitian ini menunjukkan bahwa menanamkan disiplin beribadah sejak usia sekolah dasar merupakan investasi penting dalam membangun generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter spiritual yang kuat. Melalui peran guru sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan, kebiasaan-kebiasaan baik dapat tumbuh dan menjadi bagian dari kepribadian siswa hingga masa mendatang. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

