Magelang, Juni 2026 — Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Farhan Aly dari Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang, mengungkap dinamika menarik di balik keputusan masyarakat dalam menabung di lembaga keuangan syariah. Studi ini secara khusus mengkaji pengaruh fenomena Fear of Missing Out (FoMO), Word of Mouth (WoM), serta literasi keuangan Islam terhadap keputusan menabung anggota di Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Al-Husna.
Dalam penelitiannya, Farhan Aly mengangkat tema besar mengenai perubahan perilaku finansial masyarakat di era digital. Ia menyoroti bagaimana arus informasi yang cepat melalui media sosial tidak hanya membentuk pola komunikasi, tetapi juga memengaruhi keputusan ekonomi individu. Fenomena FoMO, yang diartikan sebagai rasa takut tertinggal dari pengalaman atau peluang orang lain, menjadi salah satu variabel kunci yang diteliti.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana ketiga faktor tersebut—FoMO, WoM, dan literasi keuangan Islam—mempengaruhi keputusan anggota dalam menabung di KSPPS Al-Husna. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap anggota aktif koperasi, kemudian dianalisis menggunakan metode regresi linier berganda serta uji asumsi klasik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan menabung. Artinya, kombinasi antara dorongan psikologis, pengaruh sosial, dan pemahaman keuangan syariah secara bersama-sama mampu memengaruhi perilaku anggota dalam mengambil keputusan finansial.
Namun temuan paling menarik justru muncul ketika variabel diuji secara parsial. Dari ketiga faktor tersebut, hanya Fear of Missing Out (FoMO) yang terbukti memiliki pengaruh signifikan secara individual terhadap keputusan menabung. Sementara itu, Word of Mouth (WoM) dan literasi keuangan Islam tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial.
Temuan ini mengindikasikan bahwa keputusan menabung anggota KSPPS Al-Husna lebih banyak dipicu oleh faktor psikologis dibandingkan faktor sosial maupun tingkat pemahaman keuangan syariah. Dengan kata lain, dorongan emosional seperti keinginan untuk tidak tertinggal dari lingkungan sekitar menjadi faktor dominan dalam mendorong seseorang untuk menabung.
Dalam konteks yang lebih luas, hasil ini memperlihatkan adanya pergeseran perilaku masyarakat modern. Keputusan finansial tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan rasional atau edukasi keuangan, melainkan juga dipengaruhi oleh tekanan sosial dan persepsi yang terbentuk melalui interaksi digital maupun lingkungan sekitar.
Meski demikian, peran Word of Mouth dan literasi keuangan Islam tetap tidak dapat diabaikan. Kedua faktor tersebut terbukti berkontribusi secara kolektif dalam membentuk keputusan menabung, terutama dalam membangun kepercayaan dan pemahaman terhadap sistem keuangan berbasis syariah.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya strategi pendekatan yang lebih adaptif bagi lembaga keuangan syariah. KSPPS Al-Husna, misalnya, dapat memanfaatkan fenomena FoMO sebagai bagian dari strategi pemasaran, dengan memperkuat eksposur manfaat keanggotaan dan pengalaman positif anggota melalui media sosial maupun komunitas.
Secara keseluruhan, studi Farhan Aly memberikan gambaran bahwa di tengah perkembangan digital, perilaku menabung tidak hanya dibentuk oleh pengetahuan dan rekomendasi, tetapi juga oleh dorongan emosional yang semakin kuat. Temuan ini menjadi catatan penting bagi pengelola lembaga keuangan syariah dalam merancang strategi yang lebih relevan dengan karakteristik masyarakat saat ini. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

