Konten Digital hingga Efek Jaehyun NCT, Ini Faktor yang Bikin Konsumen Membeli Snack TicTac
17 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Di tengah persaingan industri makanan ringan yang semakin ketat di era digital, strategi pemasaran tak lagi hanya bergantung pada iklan konvensional. Konten kreatif di media sosial, figur publik ternama, ulasan konsumen di internet, hingga kekuatan citra merek kini menjadi senjata utama merebut perhatian pasar.

Fenomena itu diangkat dalam penelitian terbaru yang dilakukan Fatma Dianita, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui skripsinya berjudul “Pengaruh Content Marketing, Celebrity Endorser, Electronic Word of Mouth dan Brand Image terhadap Keputusan Pembelian Produk Makanan Ringan TicTac.”

Penelitian ini lahir dari perubahan besar perilaku konsumen Indonesia yang semakin terkoneksi secara digital. Dalam risetnya, Fatma menyoroti data pengguna internet di Indonesia yang pada 2025 telah mencapai 221,5 juta jiwa atau sekitar 80,1 persen dari total populasi nasional. Di saat bersamaan, industri makanan dan minuman juga terus tumbuh positif, dari 3,75 persen pada 2021 hingga diproyeksikan menembus 6 persen pada 2025. Kondisi tersebut membuat persaingan antar merek makanan ringan semakin agresif, termasuk bagi produk TicTac milik PT Dua Kelinci.

Menariknya, Fatma menilai TicTac cukup cerdas membaca tren pasar digital. Salah satu strategi yang paling mencuri perhatian adalah ketika produk tersebut menggandeng Jaehyun, anggota grup K-Pop NCT, sebagai celebrity endorser. Menurut Fatma, pemilihan Jaehyun bukan keputusan sembarangan. Idol asal Korea Selatan itu memiliki basis penggemar besar di Indonesia, khususnya dari kalangan remaja dan dewasa muda yang menjadi target pasar potensial produk makanan ringan. “Popularitas figur publik dapat memperkuat persepsi positif konsumen terhadap produk sekaligus mendorong interaksi di media sosial,” tulis Fatma dalam penelitiannya.

Tak hanya itu, penelitian ini juga ingin menjawab satu pertanyaan penting: faktor mana yang paling berpengaruh terhadap keputusan konsumen membeli produk TicTac? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Fatma menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan melibatkan 200 responden yang pernah membeli produk TicTac dan mengetahui kampanye promosi produk tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan diolah menggunakan aplikasi SPSS versi 25.

Ada empat variabel utama yang diuji dalam penelitian ini, yakni:

  • Content Marketing
  • Celebrity Endorser
  • Electronic Word of Mouth (e-WOM)
  • Brand Image

Keempat faktor tersebut dianalisis untuk melihat pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen. Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup menarik. Fatma menemukan bahwa seluruh variabel tersebut memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian produk TicTac. Artinya, semakin menarik konten pemasaran yang dibuat perusahaan, semakin besar kemungkinan konsumen membeli produk tersebut.

Begitu pula dengan penggunaan selebritas sebagai brand ambassador. Kehadiran figur terkenal dinilai mampu meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk. Sementara itu, electronic word of mouth atau ulasan digital juga terbukti punya pengaruh kuat. Konsumen cenderung mempercayai review, komentar, maupun rekomendasi dari pengguna lain di media sosial dan platform digital sebelum memutuskan membeli.

Tak kalah penting, brand image atau citra merek juga menjadi faktor dominan. Merek yang memiliki reputasi baik dan dianggap relevan dengan gaya hidup konsumen terbukti lebih mudah memenangkan keputusan pembelian. Temuan ini mempertegas bahwa perilaku belanja masyarakat saat ini semakin dipengaruhi oleh ekosistem digital. Konsumen tidak lagi membeli produk semata karena rasa atau harga, tetapi juga karena narasi merek, figur yang mempromosikan produk, serta opini publik yang berkembang di internet.

Bagi pelaku industri makanan ringan, hasil penelitian Fatma menjadi sinyal penting bahwa strategi pemasaran digital harus dirancang lebih kreatif, terintegrasi, dan dekat dengan audiens muda. Di era ketika satu unggahan viral bisa mendongkrak penjualan secara instan, merek yang gagal beradaptasi dengan pola konsumsi digital berisiko tertinggal di belakang kompetitor. Dan dari penelitian ini, TicTac tampaknya menjadi salah satu contoh bagaimana perpaduan konten kreatif, kekuatan fandom, dan citra merek bisa berujung pada satu hal: keputusan membeli. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

 

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance