Magelang, Juni 2026 — Kemampuan membaca Al-Qur’an yang semestinya menjadi keterampilan dasar bagi setiap muslim ternyata masih menjadi tantangan bagi sebagian pelajar di tingkat sekolah menengah atas. Fakta inilah yang diangkat dalam penelitian karya Azhfar Izza Mumtaz, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Magelang.
Dalam skripsinya yang berjudul “Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan Siswa dalam Membaca Al-Qur’an di SMA Negeri 3 Kota Magelang”, Azhfar menyoroti fenomena masih banyaknya siswa kelas XII yang belum mampu membaca Al-Qur’an secara lancar dan sesuai kaidah tajwid. Penelitian tersebut lahir dari pengamatan langsung peneliti saat menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah tersebut. Saat itu, ia menemukan sejumlah siswa masih terbata-bata ketika membaca ayat suci Al-Qur’an, salah dalam pelafalan huruf hijaiyah, hingga belum memahami aturan tajwid dengan baik.
Azhfar menilai kondisi tersebut patut mendapat perhatian serius. Terlebih, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia masih menghadapi persoalan literasi Al-Qur’an. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa sekitar 65 persen umat Islam di Indonesia masih belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tiga hal utama, yakni bagaimana proses pembelajaran Al-Qur’an di SMA Negeri 3 Kota Magelang, bentuk kesulitan yang dialami siswa saat membaca Al-Qur’an, serta faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan tersebut. Untuk menjawab persoalan itu, Azhfar menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan angket kepada siswa kelas XII.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk kesulitan utama yang dialami siswa. Pertama, siswa masih kesulitan mengenali huruf hijaiyah, terutama ketika huruf-huruf tersebut tersusun dalam bentuk kata atau kalimat. Kedua, siswa mengalami hambatan dalam melafalkan huruf sesuai makharijul huruf, sehingga pengucapan beberapa huruf Arab masih sering tertukar. Ketiga, banyak siswa belum mampu menerapkan hukum tajwid secara tepat saat membaca Al-Qur’an.
Tak hanya mengungkap bentuk kesulitan, penelitian ini juga menemukan akar persoalan yang dibagi ke dalam dua faktor utama, yakni faktor internal dan eksternal.
Pada faktor internal, rendahnya minat siswa untuk belajar membaca Al-Qur’an menjadi penyebab dominan. Selain itu, motivasi belajar yang lemah, tingkat konsentrasi yang rendah, serta daya ingat yang kurang baik juga memengaruhi kemampuan siswa dalam memahami bacaan Al-Qur’an.
Sementara itu, faktor eksternal datang dari lingkungan sekitar siswa. Kurangnya pendampingan keluarga dalam membiasakan anak membaca Al-Qur’an di rumah menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, metode pengajaran yang digunakan guru dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Lingkungan pergaulan yang kurang mendukung juga turut memperparah kondisi tersebut.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa persoalan membaca Al-Qur’an di kalangan pelajar bukan semata soal kemampuan teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan pola pendidikan di rumah, sekolah, hingga lingkungan sosial.
Melalui hasil riset ini, Azhfar berharap sekolah dapat merancang metode pembelajaran Al-Qur’an yang lebih efektif dan adaptif. Orang tua juga diharapkan lebih aktif mendampingi anak dalam belajar membaca Al-Qur’an di rumah.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan pendidikan formal, kemampuan dasar membaca Al-Qur’an tetap perlu mendapat perhatian agar generasi muda tidak kehilangan kedekatannya dengan kitab suci. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

