Kontrol Diri Lemah Picu Tawuran Sajam Remaja: Studi Ungkap Peran Tekanan Teman dan Minimnya Pengawasan Keluarga
17 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Fenomena tawuran remaja dengan senjata tajam kembali menjadi sorotan, tidak hanya karena dampaknya yang mengancam keselamatan, tetapi juga karena faktor psikologis yang melatarbelakanginya. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Salwa Rahmita Zulfiana, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Magelang, mencoba mengupas lebih dalam persoalan tersebut melalui pendekatan kualitatif.

Mengangkat tema “Gambaran Kontrol Diri pada Remaja Pelaku Tawuran Senjata Tajam”, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kemampuan kontrol diri berperan dalam mendorong atau justru gagal menahan remaja dari keterlibatan dalam aksi kekerasan. Fokus utama penelitian terletak pada dinamika psikologis remaja yang terlibat langsung dalam tawuran, khususnya dalam konteks penggunaan senjata tajam yang semakin marak.

Dalam penelitian tersebut, Salwa menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melibatkan dua remaja yang sedang menjalani rehabilitasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam berbasis teori kontrol diri dari Averill, yang mencakup tiga aspek utama: kontrol perilaku, kontrol kognitif, dan kontrol pengambilan keputusan. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman, mulai dari reduksi data hingga penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup menarik sekaligus mengkhawatirkan. Kedua subjek sebenarnya memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai risiko dari tawuran, termasuk potensi luka fisik hingga konsekuensi hukum. Namun, kesadaran tersebut tidak diiringi dengan kemampuan mengendalikan perilaku secara efektif. Dalam situasi tekanan sosial dan emosi yang tinggi, mereka cenderung bersikap impulsif dan sulit menahan diri.

Pada aspek kontrol perilaku, para remaja menunjukkan kecenderungan untuk merespons secara spontan ketika menghadapi provokasi. Misalnya, saat mendapat serangan, mereka langsung membalas tanpa mempertimbangkan dampak lebih lanjut. Hal ini menunjukkan lemahnya kemampuan menahan dorongan agresif.

Sementara itu, dari sisi kontrol kognitif, meskipun mereka mampu memahami potensi bahaya, kemampuan untuk mengelola emosi dan mengalihkan pikiran negatif masih terbatas. Kesadaran muncul justru setelah peristiwa terjadi, bukan sebagai upaya pencegahan.

Adapun pada aspek pengambilan keputusan, kedua subjek cenderung mengikuti arus kelompok. Tekanan dari teman sebaya menjadi faktor dominan yang memengaruhi keputusan mereka untuk terlibat dalam tawuran. Bahkan, dalam beberapa kasus, keputusan diambil semata karena rasa tidak enak menolak ajakan teman atau dorongan solidaritas kelompok.

Penelitian ini juga menyoroti peran penting lingkungan keluarga. Minimnya pengawasan serta kurangnya kedekatan emosional dengan orang tua atau anggota keluarga membuat remaja lebih banyak mencari pengakuan di luar rumah, terutama dari kelompok pertemanan. Kondisi ini memperbesar peluang mereka terjerumus dalam perilaku menyimpang.

Secara keseluruhan, Salwa menyimpulkan bahwa keterlibatan remaja dalam tawuran senjata tajam bukan semata-mata karena kurangnya pengetahuan, melainkan akibat ketidakseimbangan dalam aspek kontrol diri. Lemahnya kontrol perilaku dan pengambilan keputusan, ditambah tekanan teman sebaya serta kurangnya pengawasan keluarga, menjadi kombinasi faktor yang mendorong terjadinya perilaku tersebut.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan tawuran tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga memerlukan pendekatan psikologis yang menyasar penguatan kontrol diri remaja. Program pembinaan, baik di sekolah maupun lembaga rehabilitasi, perlu difokuskan pada kemampuan mengelola emosi, mengambil keputusan secara rasional, serta membangun lingkungan sosial yang lebih suportif.

Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan gambaran tentang realitas di lapangan, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan strategi pencegahan yang lebih efektif dan tepat sasaran dalam menekan angka tawuran remaja di Indonesia. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance