Keberanian Mengambil Risiko Jadi Kunci Bertahan: Studi Ungkap Nasib UMKM Pasca Relokasi Pasar Seni Borobudur
17 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Relokasi Pasar Seni Borobudur yang semula diharapkan menjadi bagian dari penataan kawasan wisata nasional justru menghadirkan tantangan serius bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di tengah ketidakpastian itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Abrar Haqqani Faiq, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Magelang, mengungkap satu faktor kunci yang menentukan apakah pelaku usaha tetap bertahan atau menyerah: keberanian mengambil risiko.

Dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Risk Taking terhadap Intensi untuk Melanjutkan Berwirausaha pada Pelaku UMKM yang Terkena Dampak Relokasi di Pasar Seni Borobudur”, Abrar menyoroti bagaimana tekanan ekonomi dan perubahan lingkungan usaha memengaruhi niat pelaku UMKM untuk tetap menjalankan bisnisnya. Penelitian ini tidak sekadar memotret dampak relokasi, tetapi menggali lebih dalam aspek psikologis yang sering luput dari perhatian kebijakan, yakni risk taking atau keberanian menghadapi ketidakpastian.

Relokasi yang memindahkan ratusan pedagang dari zona strategis ke lokasi baru menyebabkan penurunan pendapatan drastis, bahkan hingga lebih dari 80 persen. Kondisi ini menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan, mulai dari kecemasan hingga hilangnya motivasi berusaha. Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan penting: apa yang membuat sebagian pelaku UMKM tetap bertahan, sementara yang lain memilih berhenti?

Melalui pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori, Abrar melibatkan 89 pelaku UMKM terdampak sebagai responden penelitian. Data dikumpulkan menggunakan dua instrumen utama, yakni skala risk taking berbasis Domain-Specific Risk-Taking (DOSPERT) serta skala intensi melanjutkan berwirausaha yang mengacu pada Theory of Planned Behavior. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rho untuk melihat hubungan antara kedua variabel tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang kuat dan signifikan: terdapat hubungan positif antara risk taking dan intensi melanjutkan berwirausaha, dengan nilai korelasi sebesar 0,790 (p < 0,05). Artinya, semakin tinggi keberanian pelaku UMKM dalam mengambil risiko, semakin besar pula keinginan mereka untuk tetap menjalankan usaha meskipun menghadapi kondisi sulit pasca relokasi.

Temuan ini mempertegas bahwa keberanian mengambil risiko bukan sekadar sikap nekat, melainkan bentuk kesiapan mental dalam menghadapi perubahan. Pelaku usaha yang berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian—seperti mencoba lokasi baru, mengubah strategi pemasaran, atau tetap berjualan meski sepi pembeli—cenderung memiliki komitmen yang lebih kuat untuk bertahan.

Lebih jauh, penelitian ini juga menempatkan risk taking sebagai faktor psikologis yang krusial dalam kerangka Theory of Planned Behavior. Dalam teori tersebut, niat atau intensi merupakan penentu utama perilaku. Dengan kata lain, keberanian mengambil risiko berperan dalam memperkuat niat pelaku UMKM untuk tetap berwirausaha, bahkan ketika kondisi eksternal tidak mendukung.

Penelitian Abrar memberikan kontribusi penting bagi kajian psikologi kewirausahaan, khususnya dalam konteks lokal seperti Kabupaten Magelang yang terdampak kebijakan relokasi. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan pemangku kebijakan dalam merancang program pendampingan UMKM yang tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada penguatan mental dan keberanian mengambil keputusan.

Di tengah dinamika pembangunan kawasan wisata Borobudur, kisah para pelaku UMKM ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh lokasi atau modal, tetapi juga oleh kekuatan psikologis individu. Dan dalam hal ini, seperti yang dibuktikan oleh penelitian Abrar Haqqani Faiq, keberanian mengambil risiko menjadi salah satu kunci utama untuk tetap bertahan. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance