Perempuan Desa Jadi Penjaga Kearifan Herbal: Riset Ungkap Faktor yang Mendorong Penggunaan Tanaman Obat di Temanggung
23 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Di tengah derasnya perkembangan layanan kesehatan modern, pemanfaatan tanaman obat ternyata masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pedesaan. Di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kebiasaan meracik jahe, kunyit, dan berbagai tanaman herbal lain masih terus diwariskan dari generasi ke generasi, terutama oleh perempuan yang memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan kesehatan dalam keluarga.

Fenomena tersebut menjadi fokus penelitian Erlina Agustin, mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui penelitian berjudul “Determinan Niat Perempuan di Temanggung untuk Menggunakan Tanaman Obat: Studi Kasus di Desa Pagergunung.”

Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa perempuan di pedesaan bukan hanya berperan sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga menjadi pihak yang paling sering menentukan pilihan pengobatan keluarga. Mulai dari memilih jenis tanaman yang digunakan, menyiapkan ramuan tradisional, hingga memutuskan kapan menggunakan pengobatan alami atau mencari bantuan medis.

Namun, meskipun praktik penggunaan tanaman obat telah berlangsung lama, faktor-faktor yang membentuk niat perempuan untuk terus mempertahankan kebiasaan tersebut masih belum banyak dikaji secara ilmiah, khususnya dalam konteks masyarakat pedesaan Indonesia.

Melalui pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB), Erlina Agustin menganalisis bagaimana sikap terhadap tanaman obat, pengaruh lingkungan sosial, persepsi kemampuan menggunakan tanaman obat, serta ketidakpuasan terhadap pengobatan modern dapat memengaruhi keinginan perempuan dalam memanfaatkan tanaman herbal.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 348 perempuan di Desa Pagergunung, Kabupaten Temanggung, yang pernah menggunakan tanaman obat sebagai bagian dari swamedikasi keluarga, menjadi responden penelitian. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode stratified random sampling, sementara data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor psikologis, sosial, dan pengalaman terhadap layanan kesehatan modern secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap niat perempuan dalam menggunakan tanaman obat. Model penelitian yang digunakan mampu menjelaskan 52,1 persen variasi niat penggunaan tanaman obat, menunjukkan bahwa pendekatan Theory of Planned Behavior yang diperkaya dengan variabel ketidakpuasan terhadap pengobatan modern memiliki kemampuan yang cukup kuat dalam memahami perilaku masyarakat pedesaan.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa jahe dan kunyit menjadi dua tanaman obat yang paling sering dimanfaatkan oleh perempuan Desa Pagergunung. Kedua tanaman tersebut umumnya digunakan untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan seperti batuk, masuk angin, serta untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.

Menurut hasil penelitian ini, sikap positif terhadap manfaat tanaman obat menjadi salah satu aspek penting yang mendorong perempuan untuk terus menggunakan pengobatan tradisional. Kepercayaan bahwa tanaman herbal mudah diperoleh, lebih ekonomis, dan telah digunakan secara turun-temurun menjadi alasan yang memperkuat keputusan tersebut.

Selain itu, pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar juga memiliki peranan dalam membentuk keputusan perempuan terhadap penggunaan tanaman obat. Tradisi yang terus hidup dalam masyarakat desa menjadikan pengalaman orang tua, tetangga, maupun lingkungan sosial sebagai sumber informasi sekaligus penguat keyakinan dalam melakukan pengobatan mandiri menggunakan bahan alami.

Kemudahan memperoleh tanaman obat di lingkungan sekitar serta kemampuan dalam mengolahnya juga menjadi faktor yang memperkuat keinginan masyarakat untuk mempertahankan praktik tersebut. Di sisi lain, adanya pengalaman kurang memuaskan terhadap pengobatan modern, seperti pertimbangan biaya, efek samping, atau keterbatasan akses layanan kesehatan, turut menjadi alasan sebagian masyarakat memilih alternatif pengobatan tradisional.

Meski demikian, penelitian ini tidak menempatkan tanaman obat sebagai pengganti mutlak pengobatan medis. Sebaliknya, hasil kajian menekankan pentingnya penggunaan tanaman obat secara rasional, aman, dan sesuai kebutuhan kesehatan. Pengetahuan yang baik mengenai jenis tanaman, cara pengolahan, dosis, serta indikasi penggunaannya menjadi hal yang harus diperhatikan agar manfaat tanaman obat dapat diperoleh secara optimal.

Bagi dunia kesehatan masyarakat, penelitian Erlina Agustin memberikan gambaran penting mengenai bagaimana kearifan lokal dan faktor perilaku membentuk keputusan masyarakat dalam memilih pengobatan. Temuan ini dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dan pemerintah daerah dalam menyusun program edukasi yang lebih sesuai dengan budaya masyarakat, khususnya dalam mendorong penggunaan tanaman obat yang aman dan bertanggung jawab.

Di tengah tren kembali ke alam (back to nature) yang semakin berkembang, penelitian ini menunjukkan bahwa warisan pengetahuan tentang tanaman obat masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Perempuan pedesaan, dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki, tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan tradisi herbal Indonesia, sekaligus menjadi kunci penting dalam mewujudkan praktik pengobatan mandiri yang lebih bijak dan berlandaskan ilmu pengetahuan. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance