Magelang, Juni 2026 — Sebuah penelitian dari Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menyoroti bagaimana anime A Sign of Affection merepresentasikan hubungan romantis yang inklusif antara karakter tunarungu dan non-disabilitas. Studi ini dilakukan oleh Shakira Insanu Fitri, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Psikologi dan Humaniora UNIMMA, melalui skripsi berjudul Representasi Hubungan Romantis Inklusif dalam Anime A Sign of Affection: Analisis Semiotika Roland Barthes.
Berbeda dari banyak karya dan penelitian sebelumnya yang menekankan trauma, stigma, atau kesulitan sosial penyandang disabilitas, penelitian ini memusatkan perhatian pada bagaimana hubungan romantis dibangun, dirawat, dan dinegosiasikan antara individu tuli dan non-disabilitas. Anime A Sign of Affection dipilih karena menampilkan Yuki Itose, mahasiswi tunarungu yang berkomunikasi melalui bahasa isyarat, pesan teks, dan pembacaan gerak bibir, serta Itsuomi Nagi, mahasiswa non-disabilitas yang aktif mempelajari cara berkomunikasi dengan Yuki.
Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa representasi penyandang disabilitas dalam media populer masih terbatas dan sering kali tidak akurat. Dalam kajian pustaka yang dikumpulkan peneliti, sejumlah riset menunjukkan karakter disabilitas kerap ditempatkan sebagai objek simpati atau digambarkan melalui stereotip tertentu. Penelitian Shakira mencoba mengisi celah itu dengan mengkaji relasi romantis yang setara dan inklusif.
Shakira menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes, yang memeriksa makna pada tiga tingkat: denotasi, konotasi, dan mitos. Data primer diambil dari seluruh 12 episode anime yang ditayangkan di kanal Muse Indonesia, kemudian adegan-adegan penting dipilih dan dianalisis berdasarkan unsur komunikasi verbal maupun nonverbal.
Selain semiotika, penelitian ini memanfaatkan konsep relationship maintenance dari Stafford dan Canary untuk melihat bagaimana pasangan menjaga hubungan melalui lima strategi: positivity, openness, assurances, social networks, dan sharing tasks
Temuan paling menonjol penelitian ini adalah bahwa anime A Sign of Affection membongkar mitos dominan bahwa komunikasi verbal merupakan satu-satunya bentuk komunikasi yang sah dalam hubungan romantis. Melalui bahasa isyarat, gestur, dan ekspresi visual, anime tersebut membangun makna cinta yang inklusif, setara, dan saling menyesuaikan.
“A Sign of Affection merepresentasikan hubungan romantis inklusif sebagai hubungan yang dibangun atas dasar empati, komitmen, dan kesediaan untuk memahami perbedaan, sekaligus menentang pandangan normatif tentang komunikasi dan romantisme dalam budaya populer.”
Peneliti menilai hasil ini penting bagi pengembangan representasi disabilitas di media populer. Dalam manfaat praktis penelitiannya, Shakira menyebut studi ini dapat menjadi acuan bagi kreator konten, produser anime atau film, dan aktivis advokasi disabilitas untuk menghadirkan karakter penyandang disabilitas secara lebih akurat, inklusif, dan memberdayakan.
Dengan demikian, penelitian ini tidak sekadar membaca anime sebagai hiburan, melainkan sebagai teks budaya yang ikut membentuk cara masyarakat memandang disabilitas, komunikasi, dan relasi romantis. Dalam konteks media yang masih minim menampilkan hubungan Tuli–Dengar secara setara, A Sign of Affection hadir sebagai contoh narasi yang menempatkan penyandang disabilitas bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek yang aktif membangun cinta, kepercayaan, dan kehidupan sosialnya sendiri. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

