Aktivitas Fisik Terbukti Berkaitan dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes di Magelang
23 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 – Aktivitas fisik tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tetapi juga berperan penting dalam membantu mengendalikan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus. Temuan tersebut menjadi inti penelitian yang dilakukan Taufiqurrohman, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui skripsinya yang berjudul “Hubungan Jenis Aktivitas Fisik dengan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Sawangan 2 Kabupaten Magelang.”

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus diabetes melitus yang menjadi salah satu masalah kesehatan utama, baik di tingkat global maupun nasional. Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin secara cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa dalam darah. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari gangguan penglihatan, kerusakan saraf, penyakit ginjal, hingga penyakit kardiovaskular.

Di wilayah kerja Puskesmas Sawangan 2 Kabupaten Magelang, jumlah pasien diabetes melitus terus menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data awal yang dihimpun peneliti, terdapat 390 pasien diabetes yang rutin melakukan pemeriksaan pada tahun 2024 dan meningkat menjadi 411 pasien pada tahun 2025. Namun, hanya sebagian kecil pasien yang aktif mengikuti kegiatan senam prolanis yang diselenggarakan puskesmas. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa tingkat aktivitas fisik masyarakat penderita diabetes masih tergolong rendah dan perlu diteliti lebih lanjut.

Berangkat dari kondisi tersebut, Taufiqurrohman melakukan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara jenis aktivitas fisik yang dilakukan pasien dengan kadar gula darah yang mereka miliki. Tujuan penelitian ini tidak hanya untuk mengidentifikasi pola aktivitas fisik pasien diabetes, tetapi juga untuk melihat sejauh mana aktivitas tersebut berkaitan dengan pengendalian kadar glukosa darah.

Penelitian menggunakan desain deskriptif korelasi dengan teknik Cluster Random Sampling. Sebanyak 58 responden yang merupakan pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Sawangan 2 dilibatkan dalam penelitian ini. Data aktivitas fisik dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian, kemudian dianalisis bersama data kadar gula darah responden menggunakan uji statistik Spearman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden melakukan aktivitas fisik pada kategori sedang. Dari total 58 responden, sebanyak 55 orang tercatat berada dalam kelompok aktivitas fisik sedang. Sementara itu, hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu menunjukkan bahwa 38 responden berada pada kategori prediabetes. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pasien masih menghadapi tantangan dalam menjaga kestabilan kadar gula darah meskipun telah melakukan aktivitas fisik dalam tingkat tertentu.

Analisis statistik kemudian mengungkap fakta yang menarik. Uji Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis aktivitas fisik dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus. Nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,000, dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,484. Angka tersebut menunjukkan adanya hubungan pada tingkat sedang antara kedua variabel yang diteliti. Dengan kata lain, jenis aktivitas fisik yang dilakukan pasien berkaitan dengan kondisi kadar gula darah mereka.

Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa aktivitas fisik mampu meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu tubuh memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi. Ketika seseorang aktif bergerak, kebutuhan energi tubuh meningkat sehingga glukosa dalam darah lebih banyak digunakan oleh otot. Proses tersebut berkontribusi pada penurunan kadar gula darah dan membantu menjaga kontrol glikemik yang lebih baik.

Melalui penelitian ini, Taufiqurrohman menegaskan bahwa aktivitas fisik perlu menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes melitus, selain pengaturan pola makan dan terapi medis. Ia merekomendasikan agar fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya Puskesmas Sawangan 2, memperkuat program aktivitas fisik yang terstruktur dan sesuai dengan kondisi pasien. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan frekuensi serta durasi aktivitas fisik sehingga sensitivitas insulin dapat terus terjaga dan kadar gula darah lebih terkendali.

Penelitian ini memberikan pesan penting bahwa pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada obat-obatan. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan sesuai kemampuan menjadi salah satu kunci untuk menjaga kualitas hidup penderita diabetes serta mencegah munculnya komplikasi jangka panjang. Di tengah meningkatnya jumlah kasus diabetes, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa langkah sederhana seperti lebih aktif bergerak dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan. (ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance