ASI Eksklusif Terbukti Berperan Penting Menekan Risiko Stunting pada Balita di Kaliangkrik
30 June 2026

mimin

Magelang, Juni 2026 — Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis ini tidak hanya menyebabkan anak memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan standar usianya, tetapi juga berpotensi mengganggu perkembangan otak, kemampuan kognitif, sistem kekebalan tubuh, hingga produktivitas anak saat dewasa.

Berangkat dari tingginya angka stunting di wilayah Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Akbar Budi Prasetyo, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melakukan penelitian bertajuk “Hubungan Antara Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kaliangkrik.” Penelitian tersebut bertujuan mengkaji sejauh mana pemberian ASI eksklusif memiliki hubungan terhadap kejadian stunting pada anak balita.

Pemilihan tema tersebut didasarkan pada fakta bahwa ASI eksklusif merupakan salah satu faktor penting dalam masa 1.000 hari pertama kehidupan anak. Pada periode tersebut, pemenuhan kebutuhan gizi menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta pembentukan daya tahan tubuh. Bayi yang tidak memperoleh ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya berisiko lebih besar mengalami gangguan pertumbuhan, termasuk stunting.

Dalam penelitiannya, Akbar menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain observasional menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kaliangkrik dengan melibatkan 135 responden yang dipilih secara acak dari populasi penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan antara variabel pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat mengenai pemberian ASI eksklusif sudah cukup baik, di mana sebanyak 56 persen responden memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Namun demikian, kasus stunting masih ditemukan pada 58 persen balita yang menjadi responden penelitian.

Analisis statistik memperlihatkan hasil yang sangat signifikan. Uji korelasi Spearman menghasilkan nilai p-value 0,00 atau lebih kecil dari 0,05, yang berarti terdapat hubungan nyata antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting. Sementara itu, nilai koefisien korelasi sebesar 0,765 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara kedua variabel tersebut.

Temuan ini menguatkan bahwa pemberian ASI eksklusif memiliki peran penting sebagai salah satu langkah pencegahan stunting. Semakin tinggi cakupan pemberian ASI eksklusif, maka semakin kecil kemungkinan balita mengalami gangguan pertumbuhan. ASI tidak hanya menyediakan zat gizi lengkap yang dibutuhkan bayi, tetapi juga mengandung antibodi yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga anak lebih terlindungi dari berbagai penyakit infeksi yang dapat menghambat pertumbuhan.

Meskipun demikian, stunting bukanlah masalah yang disebabkan oleh satu faktor saja. Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, status ekonomi keluarga, kualitas sanitasi lingkungan, pola pengasuhan, serta kecukupan asupan gizi anak setelah masa ASI eksklusif juga turut berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Oleh karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh dengan melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah.

Melalui penelitian ini, Akbar Budi Prasetyo menekankan pentingnya peningkatan edukasi dan promosi kesehatan mengenai manfaat ASI eksklusif kepada masyarakat, khususnya calon ibu dan ibu menyusui. Peran aktif tenaga kesehatan, kader posyandu, serta fasilitas pelayanan kesehatan menjadi kunci dalam memastikan informasi mengenai pemberian ASI yang tepat dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa upaya sederhana seperti memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan dapat menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas. Dengan meningkatnya kesadaran keluarga terhadap pentingnya ASI eksklusif, angka stunting di masyarakat diharapkan dapat terus ditekan sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.(ed. Sulistya)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance