Magelang, Juni 2026 – Nyeri haid atau dismenore masih menjadi persoalan kesehatan reproduksi yang paling banyak dialami remaja putri. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berdampak pada aktivitas belajar, produktivitas, hingga kualitas hidup. Di tengah tingginya penggunaan obat pereda nyeri, sebuah penelitian dari Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menunjukkan bahwa terapi akupresur dapat menjadi alternatif nonfarmakologis yang efektif, aman, dan mudah diterapkan.
Temuan tersebut disampaikan melalui penelitian yang dilakukan Alivia Diah Faradilla Sukma Parapat, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UNIMMA, dalam skripsinya yang berjudul Akupresur untuk Dismenore: Studi Literature Review.
Melalui penelitian berbasis kajian pustaka, Alivia berupaya menghimpun sekaligus menganalisis berbagai hasil penelitian terkini mengenai efektivitas akupresur sebagai terapi untuk menurunkan nyeri haid pada remaja. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kejadian dismenore yang kerap mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara penggunaan obat analgesik dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan berbagai efek samping.
“Pendekatan nonfarmakologis menjadi pilihan yang semakin penting karena dinilai lebih aman serta minim risiko dibandingkan penggunaan obat-obatan secara terus-menerus,” demikian menjadi benang merah dari penelitian tersebut.
Dalam kajiannya, Alivia menggunakan metode Literature Review dengan menelusuri berbagai artikel ilmiah yang diterbitkan sepanjang 2020 hingga 2025 melalui Google Scholar. Seleksi dilakukan menggunakan kerangka PICOS sehingga hanya penelitian yang memenuhi kriteria ilmiah yang dianalisis. Dari proses tersebut, sebanyak delapan artikel penelitian berhasil dipilih sebagai dasar analisis.
Hasil kajian memperlihatkan bahwa seluruh penelitian yang dianalisis memberikan kesimpulan serupa, yakni terapi akupresur mampu menurunkan intensitas nyeri dismenore pada remaja secara signifikan. Responden dalam berbagai penelitian tersebut merupakan remaja berusia 12 hingga 21 tahun dengan riwayat menarche pada rentang usia 11 hingga 21 tahun.
Penelitian juga menemukan bahwa terdapat beberapa titik akupresur yang paling banyak digunakan dalam penanganan nyeri menstruasi. Titik SP6 (Sanyinjiao) menjadi lokasi yang paling sering diaplikasikan, disusul titik LI4 (Hegu), ST36 (Zusanli), dan PC6 (Neiguan). Keempat titik tersebut dinilai mampu membantu merangsang pelepasan hormon endorfin alami tubuh sehingga dapat mengurangi rasa nyeri sekaligus memberikan efek relaksasi.
Selain mengidentifikasi titik akupresur yang efektif, penelitian ini juga menggambarkan variasi teknik pelaksanaan terapi. Durasi tindakan berkisar antara satu hingga lima belas menit atau sekitar tiga puluh kali penekanan pada setiap titik, dengan frekuensi satu hingga tiga kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, tingkat nyeri umumnya diukur menggunakan instrumen Numeric Rating Scale (NRS) maupun Visual Analog Scale (VAS) yang telah banyak digunakan dalam penelitian keperawatan.
Menurut Alivia, hasil tersebut memperkuat bukti bahwa akupresur merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang layak direkomendasikan dalam penanganan dismenore, khususnya bagi remaja yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap obat pereda nyeri.
Meski demikian, penelitian ini juga memberikan catatan penting bahwa bukti ilmiah mengenai terapi akupresur masih perlu diperkuat melalui penelitian eksperimental dengan kelompok kontrol dan jumlah responden yang lebih besar. Langkah tersebut dinilai penting agar efektivitas terapi dapat dibuktikan secara lebih komprehensif dan memiliki tingkat validitas yang lebih tinggi.
Melalui penelitian ini, Alivia berharap hasil kajiannya dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan, institusi pendidikan, maupun masyarakat dalam mengenalkan terapi akupresur sebagai salah satu alternatif sederhana untuk mengatasi nyeri haid. Selain mudah dipelajari, teknik ini juga relatif aman dilakukan sehingga berpotensi menjadi bagian dari edukasi kesehatan reproduksi remaja.
Penelitian ini sekaligus memperkaya kontribusi akademik mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang dalam pengembangan ilmu keperawatan, khususnya pada bidang keperawatan maternitas dan kesehatan reproduksi remaja. Temuan tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya penelitian lanjutan sekaligus meningkatkan pemanfaatan terapi komplementer berbasis bukti ilmiah dalam praktik pelayanan kesehatan di Indonesia. (ed. Sulistya)
Sumber: repositori UNIMMA

