Konflik Kerja-Keluarga Picu Niat Resign, Dukungan Keluarga Jadi Penentu Kunci
20 July 2026

Admin KUI-KIMMI

Magelang, Juli–Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dicky Afriandi, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Magelang, mengungkap fakta penting di balik tingginya keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan. Studi ini mengangkat tema “pengaruh work family conflict terhadap turnover intention dengan dukungan keluarga sebagai variabel moderasi” pada karyawan dan dosen di lingkungan kampus tersebut.

Penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya keinginan berpindah kerja (turnover intention) yang kerap terjadi di berbagai organisasi, termasuk institusi pendidikan. Konflik antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan keluarga atau work family conflict disebut sebagai salah satu pemicu utama. Ketika seseorang kesulitan menyeimbangkan peran di tempat kerja dan di rumah, tekanan yang muncul dapat mendorong munculnya niat untuk resign.

Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 76 responden yang terdiri dari karyawan dan dosen, Afriandi berupaya menguji dua hal utama: seberapa besar pengaruh konflik kerja-keluarga terhadap keinginan keluar dari pekerjaan, serta apakah dukungan keluarga mampu meredam dampak tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup tegas. Work family conflict terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention. Artinya, semakin tinggi konflik antara pekerjaan dan keluarga yang dirasakan seseorang, semakin besar pula keinginannya untuk meninggalkan pekerjaan.

Namun, penelitian ini juga menemukan sisi lain yang tak kalah penting. Dukungan keluarga berperan sebagai variabel moderasi yang mampu memperlemah pengaruh konflik tersebut. Dengan kata lain, individu yang mendapatkan dukungan emosional, moral, maupun praktis dari keluarga cenderung lebih mampu mengelola tekanan dan tidak mudah mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaan.

Temuan ini menegaskan bahwa persoalan turnover tidak semata-mata berkaitan dengan faktor internal organisasi seperti gaji atau lingkungan kerja, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal, terutama kehidupan keluarga. Dukungan keluarga menjadi “penyangga” yang dapat menstabilkan kondisi psikologis pekerja di tengah tekanan peran ganda.

Bagi institusi, hasil penelitian ini menjadi peringatan sekaligus peluang. Upaya menekan angka turnover tidak cukup hanya dengan kebijakan internal, tetapi juga perlu mempertimbangkan keseimbangan kerja-kehidupan (work-life balance) karyawan. Program yang ramah keluarga atau fleksibilitas kerja dapat menjadi solusi strategis.

Secara keseluruhan, penelitian Dicky Afriandi ini memberikan gambaran komprehensif bahwa konflik kerja dan keluarga adalah isu nyata yang berdampak langsung pada keberlangsungan tenaga kerja. Namun, dengan dukungan keluarga yang kuat, dampak tersebut dapat diminimalkan, bahkan dicegah. Sebuah pesan penting bagi dunia kerja modern yang semakin menuntut keseimbangan antara profesionalitas dan kehidupan pribadi. (ed. adm_kuikimmi)

Sumber: repository UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance