Magelang, Juli–Upaya meningkatkan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar kembali mendapat sorotan melalui penelitian yang dilakukan oleh Intan Aminatul Khasanah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muhammadiyah Magelang. Dalam risetnya, Intan mengangkat tema penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray sebagai strategi untuk mendorong kemampuan komunikasi siswa kelas V di SD Muhammadiyah Integratif Dukun.
Penelitian ini berangkat dari realitas di lapangan yang menunjukkan bahwa keterampilan berbicara siswa masih tergolong rendah, padahal kemampuan komunikasi merupakan bagian penting dari kompetensi abad ke-21. Siswa kerap mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide, gagasan, maupun pendapat secara lisan, baik dalam kegiatan pembelajaran maupun interaksi sehari-hari.
Melalui pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Intan merancang penelitian dalam tiga siklus yang masing-masing meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Metode ini dipilih untuk mengamati secara langsung perubahan kemampuan siswa setelah diterapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray, sebuah metode kolaboratif yang menuntut siswa aktif berdiskusi dan bertukar informasi dalam kelompok.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana model Two Stay Two Stray mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa, khususnya dalam pembelajaran materi unsur intrinsik cerita. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang konsisten pada setiap siklus pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif, berani menyampaikan pendapat, serta lebih terlibat dalam proses diskusi kelas.
Tak hanya itu, model pembelajaran ini juga dinilai mampu menciptakan suasana kelas yang lebih dinamis dan berpusat pada siswa. Aktivitas belajar tidak lagi didominasi guru, melainkan memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi ide dan berkomunikasi secara lebih terbuka. Hal ini berdampak positif dalam mengurangi kejenuhan belajar dan meningkatkan partisipasi siswa secara menyeluruh.
Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah kendala. Penerapan model Two Stay Two Stray membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibanding metode konvensional. Selain itu, masih terdapat beberapa siswa yang belum memanfaatkan waktu diskusi secara optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti merekomendasikan penambahan ice breaking serta variasi tugas agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menarik.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa model pembelajaran Two Stay Two Stray dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar. Temuan ini sekaligus memperkuat pentingnya inovasi metode pengajaran dalam menjawab tantangan pendidikan modern, khususnya dalam membangun kemampuan komunikasi siswa sejak dini. (ed. adm_kuikimmi)
Sumber:Â repositori UNIMMA

