Stres Tinggi pada Polisi Terbukti Turunkan Kinerja, Ini Temuan Lengkapnya
21 July 2026

Admin KUI-KIMMI

Magelang, Juli–Di tengah tuntutan tugas yang kian kompleks, aparat kepolisian di Indonesia dihadapkan pada tekanan kerja yang tidak ringan. Hal ini menjadi sorotan dalam penelitian yang dilakukan oleh Fikri Dwi Andriyanto, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Magelang, melalui karya ilmiahnya bertajuk “Stres pada Aparat Kepolisian: Studi Literature Review” .

Penelitian ini mengangkat tema krusial terkait stres kerja pada aparat kepolisian, sebuah isu yang kerap luput dari perhatian publik, namun memiliki dampak besar terhadap kinerja dan kesehatan mental aparat di lapangan. Dalam kajiannya, Fikri menyoroti bahwa profesi polisi identik dengan disiplin tinggi, risiko bahaya, serta tuntutan kesiapsiagaan yang konstan—kondisi yang secara tidak langsung memicu tekanan psikologis berkepanjangan.

Adapun tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi berbagai temuan ilmiah mengenai respons psikologis berupa stres yang dialami aparat kepolisian selama menjalankan tugasnya . Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menggunakan metode systematic literature review dengan pendekatan protokol PRISMA, yang mengkaji berbagai artikel ilmiah dari database nasional maupun internasional seperti PubMed, ScienceDirect, hingga Google Scholar.

Dari proses seleksi yang ketat, ditemukan tujuh artikel utama yang relevan dengan topik penelitian . Hasil analisis menunjukkan bahwa stres merupakan faktor signifikan yang memengaruhi performa kerja aparat kepolisian. Tekanan yang muncul tidak hanya berasal dari beban tugas, tetapi juga dari risiko pekerjaan yang tidak terduga serta tuntutan institusi yang tinggi.

Menariknya, penelitian ini juga mengungkap bahwa upaya individu dalam mengatasi stres tidak selalu berjalan efektif. Dalam beberapa kasus, aparat justru mencoba mengalihkan tekanan dengan bekerja lebih keras, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi mental dan berdampak negatif pada kinerja .

Fikri menegaskan bahwa pengelolaan stres yang baik membutuhkan komitmen internal yang kuat, termasuk kemampuan mengatur pola pikir dan strategi koping yang sehat. Tanpa hal tersebut, stres berpotensi berkembang menjadi masalah serius, baik bagi individu maupun institusi kepolisian secara keseluruhan.

Penelitian ini mempertegas pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental aparat penegak hukum. Di balik tugas mulia menjaga keamanan dan ketertiban, terdapat beban psikologis yang nyata dan perlu dikelola secara sistematis.

Dengan temuan ini, diharapkan institusi kepolisian dapat lebih serius dalam merancang kebijakan yang mendukung kesejahteraan mental anggotanya, sehingga kinerja tetap optimal dan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. (ed. adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance