Penelitian Ungkap Faktor Kunci Penyebab BBLR di Indonesia, Soroti Peran Ibu hingga Jarak Kehamilan
22 July 2026

Admin KUI-KIMMI

Magelang,Juli–Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Laili Azizah, mahasiswa Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang, menyoroti persoalan serius dalam kesehatan bayi di Indonesia, yakni tingginya angka kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Studi ini mengangkat tema “faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR” melalui pendekatan literatur review yang komprehensif.

Dalam penelitiannya, Azizah berangkat dari fakta bahwa angka kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi dan salah satu penyumbang utamanya adalah kondisi BBLR. Data menunjukkan sekitar 10,2 persen bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah, atau setara dengan satu dari sepuluh kelahiran. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan bayi saat lahir, tetapi juga meningkatkan risiko kematian pada masa perinatal.

Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi berbagai faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR. Untuk mencapai hal tersebut, peneliti menggunakan metode literature review dengan pendekatan sistematis berbasis PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analyses). Metode ini memungkinkan peneliti mengumpulkan, menyeleksi, serta membandingkan berbagai hasil penelitian sebelumnya guna mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab BBLR tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan kombinasi dari beberapa aspek penting. Faktor pertama adalah kondisi ibu, yang meliputi riwayat penyakit, usia ibu, jumlah persalinan (paritas), serta usia kehamilan. Ibu dengan kondisi kesehatan tertentu atau usia yang terlalu muda maupun terlalu tua cenderung memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan berat badan rendah.

Selain itu, kualitas pelayanan antenatal care (ANC) juga menjadi faktor krusial. Pemeriksaan kehamilan yang tidak optimal dapat menyebabkan masalah kesehatan ibu dan janin tidak terdeteksi sejak dini. Faktor lainnya yang tak kalah penting adalah jarak kehamilan. Kehamilan dengan jarak terlalu dekat terbukti meningkatkan risiko BBLR karena tubuh ibu belum sepenuhnya pulih dari kehamilan sebelumnya.

Penelitian ini menegaskan bahwa upaya menekan angka BBLR tidak cukup hanya berfokus pada satu aspek saja. Diperlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas kesehatan ibu, edukasi tentang perencanaan kehamilan, hingga optimalisasi layanan kesehatan selama masa kehamilan.

Dengan temuan ini, Azizah berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi tenaga kesehatan maupun pembuat kebijakan dalam merancang strategi penurunan angka kematian bayi di Indonesia, sekaligus meningkatkan kualitas generasi masa depan. (ed. adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance