Film “Budi Pekerti” Ungkap Bahaya Cyberbullying: Studi Soroti Distorsi Realitas di Media Sosial
23 July 2026

Admin KUI-KIMMI

Magelang, Juli–Fenomena cyberbullying kembali menjadi sorotan. Melalui penelitian berbasis analisis semiotika, Erna Candra Dewi mengupas bagaimana film Budi Pekerti merepresentasikan dampak serius perundungan digital di era media sosial.

Penelitian yang dilakukan oleh Erna Candra Dewi, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang, mengangkat tema “The Culture Cycle of Cyberbullying pada Film Budi Pekerti” dengan pendekatan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Studi ini menyoroti bagaimana fenomena cyberbullying tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga berdampak nyata dalam kehidupan sosial individu.

Dalam penelitiannya, Erna menempatkan film Budi Pekerti sebagai objek kajian utama karena dinilai mampu merepresentasikan fenomena sosial yang tengah berkembang di masyarakat digital. Film tersebut menceritakan kisah seorang guru yang mendadak viral akibat potongan video yang disalahartikan oleh publik, sehingga memicu gelombang komentar negatif dari warganet.

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna tanda dan simbol yang muncul dalam film, serta memahami bagaimana siklus budaya (culture cycle) membentuk dan memperkuat praktik cyberbullying di media sosial. Penelitian ini juga bertujuan mengungkap bagaimana distorsi informasi dapat memengaruhi persepsi publik terhadap suatu peristiwa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cyberbullying dalam film Budi Pekerti terbentuk melalui proses berlapis, mulai dari produksi konten, distribusi di media sosial, hingga interpretasi oleh audiens. Dalam konteks ini, video yang telah diedit menjadi pemicu utama kesalahpahaman publik. Distorsi tersebut kemudian diperkuat oleh opini warganet yang cenderung menghakimi tanpa mengetahui fakta sebenarnya.

Lebih jauh, penelitian ini menemukan bahwa media sosial berperan sebagai ruang terbuka yang memungkinkan siapa saja untuk berkomentar, sehingga memicu fenomena cancel culture. Hal ini memperlihatkan bahwa kekuatan opini publik di dunia maya dapat dengan cepat menghancurkan reputasi seseorang, bahkan berdampak pada kehidupan pribadi dan keluarga korban.

Erna juga menegaskan bahwa film sebagai media komunikasi massa memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat. Melalui simbol dan narasi visual, film mampu menggambarkan realitas sosial sekaligus memengaruhi emosi dan persepsi penonton.

Kesimpulannya, penelitian ini menegaskan bahwa cyberbullying bukan sekadar persoalan komunikasi digital, melainkan fenomena sosial yang kompleks. Diperlukan literasi digital yang lebih baik agar masyarakat mampu menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum tentu sesuai fakta.

Studi ini menjadi pengingat penting di tengah maraknya penggunaan media sosial, bahwa satu unggahan dapat berdampak luas. Film Budi Pekerti pun bukan sekadar tontonan, melainkan cermin realitas tentang betapa cepatnya opini publik terbentuk—dan menghancurkan. (ed. adm_kuikimmi)

Sumber: repositori UNIMMA

Bebas Pustaka 87

Bagi Calon Wisudawan 87 Tahun 2026

Silahkan unggah form sesuai prodi dikarenakan Sistem Repository dalam Maintenance